SUKABUMIUPDATE.COM - Survey terhadap profesi, jabatan, dan pekerjaan paling tidak disukai warga Kota dan Kabupaten Sukabumi ini, hanya mengambil 24 orang sebagai responden. Dipilih secara acak, baik usia, pekerjaan, atau pun latar belakang pendidikan. Survey dilakukan 5 Agustus – 29 September 2016.
Survey sederhana ini bukan representasi pendapat warga Sukabumi keseluruhan. sukabumiupdate.com tidak membatasi atau pun mengarahkan respoden dengan pertanyaan tertentu. Responden hanya diminta menyebut tiga profesi, jabatan, dan pekerjaan tidak disukai secara spontan.
Berikut kesepuluh profesi, jabatan, dan pekerjaan tidak disukai warga Sukabumi:
1. Pengamen
Mereka adalah seniman penghibur, juga tidak hina. Mereka hanya kerap hadir tidak pada waktu atau tempat yang tepat. Seniman pengamen, idealnya selalu menuntaskan lagu yang dibawakannya, kemdian meminta uang. Kalau baru nyanyi satu bait, terus minta uang, kemudian ngeloyor pergi, itunamanya pengemis, ya gak? Satu hal lagi yang membuat 18 responden merasa jengkel, adalah ketika mereka hadir dengan bergaya seperti habis mabuk sambil pamer tatto. Lalu menyanyi gak jelas sambil memaksa minta uang receh.
2. Tukang Parkir
Tukang parkir memang dibutuhkan. Tapi ada kalanya, mereka juga membuat jengkel pemilik kendaraan. Nah kok bisa? 15 responden yang menyebut tukang parkir, dengan alasan, ketika mereka mau memarkirkan kendaraan, si tukang parkir tidak kelihatan batang hidungnya. Tapi ketika akan keluar dari lokasi parkiran, kok tiba-tiba muncul? Hmm... Kalo gitu namanya tukang parkir jadi-jadian dong.
3. Polantas
Profesi ini dipilih oleh beragam kalangan. Yang mereka maksud tentu saja oknum Polisi Lalu Lintas. 17 dari 24 responden mengaku pernah kena tilang Polantas, namun 12 responden yang tidak menyukaiya adalah pemilik kendaraan roda dua dengan beragam alasan. Alasan paling lucu adalah ketika salah satu responden mengaku ditilang hanya karena mengenakan sendal jepit. Wah, kalau ini sih jelas oknum ya. Padahal yang ia tahu cuma kelengkapan berkendara saja yang seharusnya menjadi alasan Polantas melakukan tilang.
4. Aktivis LSM
Aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) dianggap momok menakutkan bagi guru, manajemen perusahaan, dan birokrat, dan disebut 12 responden. Mereka disinyalir suka melakukan pemerasan dengan cara menakut-nakuti kasusnya akan diungkap. Tentu saja yang dimaksud adalah oknum aktivis LSM. Tapi kalau memang tidak punya masalah, tidak ada yang perlu ditakutkan, tho? Kalau memang punya salah, artinya oknum diperas oknum. Ya gak?
5. Bank Keliling
Mayoritas responden yang memilih profesi ini sebagai yang paling tidak disukai, disebut oleh 11 responden dan tujuh di antaranya adalah kaum perempuan. Respondennya relatif lebih beragam. Dari mulai PNS, ibu rumah tangga, tukang ojek, sampai karyawan pabrik. Wah... ternyata bank keliling ini gerakannya masif, ya? Kayak-nyafungsionaris partai pun kalah gesit dalam mencari ‘mangsa’. Anehnya, sebagian besar alasan responden tidak menyukainya karena jengkel kalau ditagih paksa, atau pada saat yang tidak tepat.
6. Wartawan
Profesi ini juga menjadi momok pendidik, manajemen perusahaan, dan birokrat, terutama di pemerintahan tingkat desa. Mereka disinyalir suka memeras dengan cara menakut-nakuti kasusnya akan dipublikasikan. Tentu saja yang dimaksud adalah oknum wartawan. Lagi pula, kalau memang merasa dirugikan atau diperas, tinggal dilaporkan saja kepada pihak berwajib. Pemerasan itu tindak pidana, lho. Pekerjan ini disebut 11 responden.
7. Sopir Angkot
Pekerjaan ini dipilih oleh 10 responden. Rata-rata dipilih oleh pemilik kendaraan pribadi, tujuh di antaranya adalah kaum Adam. Berhenti seenak hati, berputar semaunya, dan tidak pernah memberi kesempatan angkot lainnya untuk menyalip sehingga menghalangi jalan bagi kendaraan di belakangnya, sering tidak ada kembalian, adalah perilaku umum para Angkoters menurut responden. Mungkin karena bagi wanita pengguna jasa angkot, kemacetan yang ditimbulkan dianggap wajar, ya? Karenanya hanya tiga responden wanita yang mempersoalkan tidak adanya uang kembalian ongkos Angkot.
8. My Boss
10 dari 25 responden memilih My Boss. Cukup beralasan, karena kesepuluh responden adalah pekerja pabrik dan orang tua yang anaknya bekerja di pabrik garmen. Umumnya mereka mengeluhkan jam kerja yang berlebihan. Dan mereka menuding bos mereka sebagai penyebabnya. Istilah SS (sampai selesai), skorsing, dan revisi paling dibenci oleh responden. Karena ketiga istilah itu, mereka kadang harus bekerja hingga larut malam, namun tidak dihitung sebagai lembur.
9. Pemulung
Profesi pemulung sebenarnya profesi mulia. Mereka bukan cuma mungutin sampah, tetapi berkontribusi dalam mengurangi sampah plastik. Nah, persoalannya memang menjadi lain kalau semua yang berjenis plastik ikut dibersihkan. Termasuk sendal jepit yang baru saja dibeli responden kemarin sore, sepatu anak yang mengandung bahan plastik juga ikut disikatnya. Yaa... Kalo gitu mah, bukan peMULUNG dong, tapi peMALING. Pekerjan ini dipilih delapan responden.
10. Satpam
Profesi satu ini sebenarnya mulia. Mereka adalah orang-orang yang memang bertugas memberikan rasa aman dan nyaman kepada pemilik perusahaan atau masyarakat. Tetapi persoalannya, tujuh responden memilih ini karena alasan karena perilaku mereka yang kerap over acting. Tampang gagah dan berwibawa seketika lenyap, manakala mereka bersikap berlebihan.
Lima profesi, jabatan, dan pekerjaan lainnya yang disebut oleh kurang dari lima orang adalah birokrat, anggota legislatif, kepala desa, pedagang pulsa, dan preman.