SUKABUMIUPDATE.COM - Aktivitas pabrik Semen Jawa dengan merek dagang SCG milik PT Siam Cement Group (SCG) di Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dituding mencemari lingkungan sekitar.Â
Indikasi tersebut setelah warga di sekitar pabrik merasakan pencemaran lingkungan berupa mengalami gatal-gatal pada kulit hingga gangguan pernapasan. Hal tersebut dituding warga akibat keberadaan perusahaan asal Thailand itu berdekatan dengan permukiman warga.
Nariah (40) warga Kampung Panyawegan, RT 01/08, Kadusunan Sinaresmi, merasakan pencemaran lingkungan yang diduga akitivitas pabrik tersebut. Hampir setahun terakhir, keluarga dan warga lainnya alami gatal-gatal yang diduga akibat menggunakan air sumur yang sudah tercemar.
"Lokasi pabrik ada di kawasan permukiman warga. Kami sering mengalami gatal-gatal dan sesak napas karena debu yang berasal dari pabrik," kata Nuriah kepada sukabumiupdate.com, Sabtu (15/10).
Nuriah bersama warga lainnya berharap, aktivitas pabrik semen tersebut tidak mencemari lingkungan karena merekalah yang merasakan betul dampaknya. Apabila kondisi ini dibiarkan, tidak menutup kemungkinan akan berakibat fatal bagi anak dan cucunya di kemudian hari.
"Bila perlu kami minta ditutup. Kami khawatir anak dan cucu kami juga akan sakit apabila pabrik semen terus menerus merusak dan mencemari lingkungan," tambahnya.
Keluhan serupa juga diutarakan Yuyun (50) warga Kampung Kubangjaya RT 01/02, Desa Sinaresmi. Dia dan keluarganya sudah setahun terakhir mengidap penyakit kulit berupa bintik-bintik seperti cacar air disertai gatal-gatal.Â
Dia menduga, penyakit itu akibat menggunakan air sumur di rumahnya yang berbau dan berbusa. Belum lagi, dari polusi debu semen yang dikeluarkan pabrik semen.
"Sebelum ada pabrik itu (SCG-red), air sumur cukup jernih. Tapi setelah ada pabrik semen, air sumur menjadi kuning. Dan setiap hari, pabrik itu mengeluarkan debu lewat cerobong asap. Silakan, pihak perusahaan atau pemerintah cek sendiri ke kampung kami," pinta Yuyun.