SUKABUMIUPDATE.COM - Ratusan anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Sukabumi menggelar aksi mendesak kepolisian segera menangkap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, di Alun-Alun Lapang Merdeka Kota Sukabumi, Minggu (16/10).
Aksi yang digelar mulai pukul 08.00 WIB dan baru selesai sekitar pukul 10.30 WIB itu, tidak hanya diikuti orang dewasa saja, tetapi wanita, remaja, anak-anak, hingga balita di bawah umur berunjuk rasa.Â
Pengunjuk rasa pun membentangkan spanduk bertuliskan "Tangkap dan Hukum Penghina Al-Quran, dan Ahok Harus Minta Maaf. Selain itu, mereka juga juga membawa berbagai atribut HTI seperti bendera dan lain-lain.
Dalam orasinya, juru bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto mengatakan, mengutuk keras pelecehan terhadap Al-Quran yang dilakukan oleh Ahok sebagai tindakan yang sama sekali tidak bisa diterima. Menurutnya, Ahok secara sadar telah menyatakan bahwa orang yang tidak memilih dirinya oleh dasar surat Al-Maidah ayat 51 telah dibodohi.
Dengan demikian ia menuntut kepada aparat yang berwenang untuk segera bertindak mengusut tindakan penghinaan terhadap Al-Quran tersebut, serta menindak lanjuti laporan yang telah banyak dilakukan oleh berbagai komponen masyarakat merujuk KUHP Pasal 156a dan UU No 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama.Â
"Perbuatan Ahok ini secara sah telah melanggar hukum sehingga harus ditindak," kata Ismail dalam orasinya di depan Alun-Alun Kota Sukabumi.

Menurutanya, dengan menghina Al-Quran semakin jelas siapa Ahok sebenarnya, dan menambah bukti yang sudah ada tentang betapa tidak pantasnya Ahok memimpin Provinsi DKI Jakarta yang mayoritas warganya Muslim.
"Aksi ini tidak ada kaitan dengan Pilgub DKI Jakarta, dan nyatanya Ahok menghina Al-Quran, kami juga mengutuk keras apa yang telah dilakukan Ahok," tambah Ketua DPD HTI Kota Sukabumi Deni Muhammad Danial kepada sukabumiupdate.com.
Aksi tersebut dijaga oleh puluhan personel gabungan dari TNI, Polri dan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Sukabumi. Aksi berjalan lancar dan aman, usai puas berorasi massa pun satu persatu meninggalkan lokasi unjuk rasa.