SUKABUMIUPDAE.COM - Seoang anak penyandang autis BN (11) yang tengah menjalani terapi di RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi atau Bunut, tepatnya diruang Isolasi Kemuning, diduga menjadi korban penganiayaan.
Akibat dugaan penganiayaan tersebut, bocah warga Kelurahan/Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi ini alami memar di bagian pipi kiri, dan tangannya penuh luka cakar.
"Saya tidak terima anak saya menjadi seperti ini, saya titipkan BN di Bunut untuk menjalani terapi, tetapi kenapa jadi korban penganiyaan," kata ibu kandung korban yang namanya ini diinisialkan NK (54), pensiunan guru pegawa neger sipil (PNS) Golongan III A di Kota Sukabumi kepada sukabumiupdate.com, Minggu (23/10).
Ia baru mengetahui anak bungsunya itu luka memar pada bagian wajah dan bekas cakaran di tangannya saat menjenguk BN, pada Kamis (20/10) malam, sekitar pukul 20.00 WIB.
Bahkan yang lebih memprihatinkan, anak ini disatukan bersama pasien penyakit jiwa dan berbeda jenis kelamin. Padahal sebelum masuk ke ruang isolasi Kemuning ini pada 22 September 2016, ia sudah berkoordinasi langsung dengan Dokter Ahli Kejiwaan RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi.
Pada saat itu, BN ditempatkan di ruang khusus, apalagi bocah ini masih di bawah umur dan berjenis kelamin perempuan, serta buka pasien penyakit jiwa.
"Malam itu juga saya laporan ke Polres Sukabumi Kota terkait kasus dugaan penganiayaan terhadap BN. Saya tidak tahu siapa yang menganiayanya, tapi saya minta keadilan dari pihak rumah sakit untuk bertanggung jawab atas kasus ini," tambahnya.
NK juga mengungkapkan bahwa hampir di sekujur tubuh anak ketiganya dari tiga bersaudara, penuh luka baik ada yang bekas luka memar maupun cakaran. Ia khawatir anaknya tersebut menjadi korban pelecehan seksual oleh pasien sakit jiwa, karena pasien yang ada di ruang Kemuning itu dicampur baurkan.
Dan belum lama ini, ia juga pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Bilqis tidur dengan pasien sakit jiwa pria dalam keadaan telanjang.
"Sebelum kejadian tersebut, pada 11 Oktober 2016, Wakil Ketua DPRD Kota Sukabumi Tatan Kustandi, saya sempat bertemu dengan Direktur RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi Bahrul Anwar. Pertemuan itu ada beberapa kesepakatan yakni akan dipasang CCTV, namun kenyataannya tidak," tambahnya.
Selain itu, pakaian Bilqis dan perlengkapan mandi serta berbagai kebutuhan anak kesayangannya itu, raib entah ke mana. Sehingga saat ini Bilqis dipaksa menggunakan pakaian pasien sakit jiwa untuk pria.
"Atas kasus ini saya selaku orang tua, meminta visum di tempat yang netral untuk membuktikan bahwa anak saya benar-benar dianiaya. Saya tidak mengarang kasus ini, karena punya saksi dan juga saksi mata yang siap memberikan keterangan," tegas NK.
Sementara, Wakil Ketua DPRD Kota Sukabumi, Tatan Kustandi secara tegas meminta kepada pihak Bunut untuk mengungkap kasus ini. Apalagi Bilqis merupakan anak di bawah umur dan bukan pasien penyakit jiwa, tetapi anak berkebutuhan khusus yakni Autis.Â
"Ini menjadi perhatian kami di legislatif, dan pihak rumah sakit wajib bertanggung jawab atas kasus tersebut," katanya.Â