SUKABUMIUPDATE.COM - Apa terbersit di benak warga Sukabumi, ketika mendengar angka 21 disebut? Mungkin teringat usia, dua digit terakhir pin ATM, atau trayek angkutan kota (Angkot). Namun, jika dilafal twenty one, bisa jadi Anda akan teringat Odeon21, bioskop terakhir yang pernah ada di Kota ini.
Ingatlah deretan kursi empuk warna merah, layar wide, ruangan ber-AC, tingkat kemiringan ideal, didukung kualitas suara yahud berteknologi Dolby Digital, THX atau Dolby Atmos. Belum lagi para pemandu cantik berseragam, dan pilihan film beragam.
Menyoal bioskop alias gedung pertunjukan gambar hidup di Sukabumi, kehadirannya cukup beragam baik film yang diputar, segmen penonton, serta tingkat kenyamanan. Bioskop biasanya membedakan penonton berdasarkan kelas tempat duduk, I, II, dan very important person (VIP) atau balkon.
Beberapa nama bioskop era 80-90an seperti Indra, Capitol Theatre, Sinar Surya, dan Royal Theatre, pasti cukup familiar di telinga generasi muda Sukabumi. (Deretan bioskop lain, akan kami tampilkan dalam tulisan Bernostalgia dengan 10 Bioskop di Sukabumi, tayang di sukabumiupdate.com, Kamis 10/11/2016).
Ketika itu, generasi muda Sukabumi masih bisa menikmati sajian film Mandarin, Rambo I,II,III dan IV, Catatan Si Boy I,II dan III, Warkop DKI, Lupus, atau Pemberontakan G30S/PKI.
Beberapa film Indonesia era itu, banyak beredar film-film panas dibintangi Eva Arnaz, Sally Marcelina, Kiki Fatmala, Suzzana, Enny Beatrice, dan lainnya. Judulnya pun bikin merinding dan nyeremin misalnya Misteri Permainan Terlarang atau Kenikmatan Tabu.
Hal unik lain dari bioskop waktu itu, yakni keberadaan penjaga yang dipalangi besi berdiri di samping pintu masuk. Ia bertugas memastikan penonton memiliki tiket masuk, kemudian menyobeknya. Tidak lupa sang penjaga ini meneriakkan kata: "Ayo! Ayo masih ekstra, masih ekstra!â€
Semua keunggulan Odeon21 yang berlokasi di lantai dua pusat perbelanjaan Ramayana, Tipar ketika itu, memang berhasil membuat bioskop-bioskop lokal di Sukabumi, gulung tikar satu persatu.
Namun apa daya, ketika beberapa tahun kemudian era digital menyerbu secara masif, pada akhirnya tidak hanya bioskop lokal dengan konsep tradisional, bahkan sekelas bioskop bertema cineplex termutakhir seperti Odeon21 sekalipun, bangkrut. Kehadiran video compact disc (VCD) dan digital compact disc (DVD) bajakan berharga kurang dari Rp10 ribu, adalah salah satu penyebabnya.
Menurut catatan Republika (2009), dari 850 bioskop pada 1974 di Indonesia, kini tersisa 146 bioskop lokal di berbagai daerah. Bahkan selama kurun waktu 20 tahun terakhir, 107 bioskop di antaranya kembali gulung tikar akibat terpuruknya dunia perfilman nasional.
Namun rumorpun beredar sejak tahun lalu bahwa Platinum Cineplex berencana membuat bioskop di Kota Sukabumi.