SUKABUMIUPDATE.COM - Jika Anda melihat seorang kakek tua tengah memarkir kendaraan di seberang Gang Kebonpala, Jalan Suryakencana, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, ia adalah Sukatma (65).
.jpg)
Warga Kampung/Desa Pamuruyan, Kecamatan Cibadak ini, sudah delapan tahun menjadi tukang parkir. Ia biasa mangkal di lapak nasi uduk milik Firmansyah (32), dengan sistem selang dua hari, bergantian dengan temannya.
"Paling 30 ribu sampai 50 ribu rupiah per hari. Lalu libur dua hari. Ya, dipaksain cukup untuk makan saja," ujar tukang parkir yang terbiasa berangkat menuju tempatnya mencari nafkah dengan bersepeda itu, kepada sukabumiupdate.com, Kamis (10/11).
.jpg)
Suami dari Titin Sutinah (45) dan ayah dari lima orang anak ini, hanya lulus bangku sekolah dasar (SD). Sebelum menjadi tukang parkir, ia pernah selama 25 tahun berjualan kue dan rokok di Labora, Kecamatan Cibadak. Saat itu, kios kecil tempatnya berjualan hanya seharga Rp100 ribu.
Ketika pada tahun 1983 kiosnya di Labora dibongkar, ia tak mampu membeli kios pengganti di Pasar Inpres Cibadak. Karena pasar baru tersebut, harga kiosnya tidak bersahabat dengan saku Sukatma. Kemudian ia memilih bekerja serabutan, hingga akhirnya menjadi tukang parkir.
.jpg)
Ada hal lucu, ketika mewawancarainya. Ia mengaku, setiap pemilihan umum (Pemilu) selalu berganti-ganti pilihan partai politik. Jika pada Pemilu 2009 ia memilih Partai Golongan Karya (Golkar), sedangkan pada Pemilu 2014 lalu, ia berganti pilihan ke "partai koneng".
Pada Pemilihan Bupati-Wakil Bupati Sukabumi 2015 lalu, ia mengaku mencoblos pasangan nomor urut empat. Alasannya, tim sukses calon nomor urut empat selalu makan nasi uduk di tempatnya mangkal, dan selalu memberi uang parkir Rp5 ribu.
Sekadar informasi, Pemilihan Bupati-Wakil Bupati Sukabumi 2015 lalu, hanya diikuti tiga pasang calon.