SUKABUMIUPDATE.COM - Penumpang transportasi tradisional seperti delman dan becak di Kota Sukabumi semakin sepi peminat, pasalnya sudah marak model angkutan umum bermotor yang semakin berkembang seperti angkutan perkotaan (Angkot) maupun ojek. Bahkan kini sudah mulai merambah moda transportasi online berbasis daring.
Akibat tidak ada batasan dari pemangku kebijakan terkait jumlah angkutan umum bermotor, imbasnya alat transportasi yang masih menggunakan tenaga manusia dan hewan (kuda) ini, semakin terpuruk. Padahal keberadaan delman dan becak merupakan saksi sejarah perjalanan Kota Sukabumi.

Dari penelusuran sukabumiupdate.com, baik penarik beca maupun delman banyak mengeluhkan sepinya penumpang saat ini, meskipun mereka yakin rezeki pasti selalu ada asal mau berusaha dan berdoa.
"Susah sekarang mah sewa teh, sehari saja kadang narik penumpang cuma dua, paling banter tiga. Bahkan pernah sama sekali tidak narik," ungkap Heri Gunawan (33) saat ditemui sukabumiupdate.com di Jalan Jend. Ahmad Yani, Kota Sukabumi, tepatnya di depan Toserba Yogja, Rabu (16/11).
Heri mengeluhkan banyaknya transportasi modern saat ini, daya saingnya semakin turun, sedangkan cara mengais rezeki hanya sebatas menarik delman mau tidak mau harus dijalani.
Sempat dirinya berpikir pindah propesi, namun lowongan kerja semakin hari semakin sulit, dan delman yang menjadi mata pencahariannya ini, merupakan warisan turun temurun orang tuanya.
Hal senada diungkapkan Hermansyah (50) penarik becak yang sudah begelut dariÂ
1970 mengatakan, jika dahulu transportasi belum banyak, penghasilan juga lumayan buat biaya sekolah anak dan kebutuhan rumah tangga.
"Kalau sekarang boro-boro buat anak sekolah, buat setor ke yang punya becak saja, susahnya minta ampun," tuturnya.
Becak yang Hermansyah tarik masih model boseh (goes) belum pake motor atau Cator, sehingga sulit bersaing dengan alat transportasi yang sudah bermotor. Untuk itu, ia berharap pemerintah daerah (Pemda) memperhatikan profesi mereka yang semakin hari semakin sulit dalam mengais rezeki.