SUKABUMIUPDATE.COM - sekitar 400 warrga dari 120 kepala keluarga (KK) di tiga RT yakni RT 1, 2 dan 3 Desa Bantarkalong, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi tidak bisa beraktivas pasca-ambruknya jembatan Bojonghaur yang disapu luapan Sungai Panaruban.
"Jembatan ini merupakan akses utama baik untuk bekerja, meladang, juga ke sekolah. Karena tidak ada akses jalan lagi, aktvitas 400 warga menjadi terganggu," kata Kepala Desa Bantarkalong Syahria Hasan kepada sukabumiupdate.com, Senin (28/11).
Menurutnya, karena akses jalan utamanya rusak banyak warga yang nekat menyebrang sungai sehingga membuat kekhawatiran baru, karena bisa saja saat disebrangi, Sungai Panaruban kembali meluap yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.
Pihaknya juga sudah sudah melaporkan musibah tersebut kepada unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Warungkiara dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi agar segera menangani bencana ini, apalagi jembatan itu merupakan akses vital bagi warga.
Akibat banjir dan longsor, tidak hanya merusak jalan, tetapi juga sawah milik warga pun banyak yang rusak sehingga mengalami gagal panen. Untuk itu, kepada warganya, Syahria mengimbau untuk selalu waspada dan menjaga lingkungannya mingingat intensitas hujan masih tinggi.
"Sebagian warga terpaksa menggunakan  jembatan darurat di Legok Tangkolo yang jaraknya cukup sekitar 5,6 kilometer dari Jembatan Bojonghaur," tambah Syahria.
Sementara, Ketua RT 1 Desa Bantarkalong Komar berharap, Pemkab cepat tanggap dengan adanya musibah ini, karena yang menjadi persoalan adalah anak sekolah dan masyarakat yang bercocok tanam nekat melewati aliran sungai.Â
"Jembatan ini akses utama warga sehingga harus segera diperbaiki, kami khawatir terhadap anak sekolah yang nekat menyebrang aliran Sungai Panaruban ini," katanya.