SUKABUMIUPDATE.COM - Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya menjadi pelaku atau korban dari tawuran antar pelajar. Orang tua selalu menginginkan anaknya sekolah dan lulus dengan prestasi membanggakan.
Akhir-akhir ini tawuran atau tindak kekerasan antar pelajar di Kabupaten Sukabumi semakin sering terjadi. Masih segar diingatan peristiwa yang menimpa Bagus Ikhsan Siahan pada Rabu (30/11) malam, sekitar pukul 20.00 WIB.
Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Teknika Cisaat itu, diserang kelompok pelajar bersenjata tajam saat hendak membeli kopi di sebuah warung, tidak jauh dari rumahnya, di Kampung Jelegong, Desa Balekambang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi.
Akibat serangan brutal tersebut, Bagus mengalami sejumlah luka bacok di kepala, tangan dan bagian tubuh lainnya, diberitakan sukabumiupdate.com, Kamis (01/12).
Potret kejadian yang menimpa Bagus sangat memprihatinkan. Kondisi tersebut menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kabupaten Sukabumi Nasrudin, harus disikapi secara serius.
“Tawuran antar oknum pelajar sudah masuk kategori kriminal, tindakannya seperti sudah direncanakan dan dipersiapkan, waktu dan lokasinya bisa kapan dan dimana saja, bahkan korbannya tidak hanya pelajar yang ikut tawuran, terkadang pelajar anu teu tuah teu dosa, ikut menjadi korban,†jelas Nasrudin.
Permusuhan antar sekolah tertentu seperti tidak pernah ada kata akhir, permusuhan seperti diwariskan oleh satu angkatan ke angkatan selanjutnya. Pemerintah dan sekolah terkuras energinya untuk menangani tindak kekerasaran antar siswa, selain penindakan, pencegahan dinilai sama penting.
“Sebaiknya selalu diadakan event bersama diikuti murid angkatan baru dari sekolah-sekolah yang sering terlibat tawuran. Waktunya setiap awal tahun ajaran baru. Acara utamanya pembinaan emosional dan spiritual. Para peserta harus dikondisikan berbaur dengan pelajar dari sekolah lain," tambah Nasrudin.
Ditambahkannya, dari kegiatan tersebut diharapkan terbentuk komunitas-komunitas antar sekolah berdasarkan hobi dan bakat, pihak sekolah dapat bekerjasama dengan kepolisian. Dalam penyelenggaraannya, kami (KNPI-red) bersedia bekerjasama. Urusan pembiayaan harus clear dan clean sejak awal, diambil dari alokasi apa dan dari mana,†tambahnya.
Upaya lainnya, dengan memaksimalkan tugas dan peran satuan tugas pencegahan tawuran. Tugasnya lebih fokus menjalin komunikasi dengan kelompok masyarakat, untuk membangun sistem infomasi dua arah serta melakukan kajian dan penelitian mencari akar penyebab dan solusi penanggulangan tawuran.
“Ruang gerak oknum pelajar yang akan tawuran harus terus dipersempit. Keterlibatan masyarakat sangat efektif, seperti membubarkan pelaku tawuran, hingga mengamankan pelakunya. Masyarakat berani melakukannya karena sudah muak melihat ulah para oknum pelajar tersebut. Mereka adalah generasi penerus bangsa, 20-30 tahun lagi masa depan bangsa ada di pundak mereka,†pungkas Nasrudin.