SUKABUMIUDPATE.COM - Kaleci atau Kelereng, mungkin satu dari sekian banyak permainan anak yang hingga saat ini masih bertahan. Kaleci terus menurun dari generasi ke generasi, bertahan di tengah gempuran game modern berteknologi tinggi.
Di salah satu sudut perkampungan padat di sekitar Stasiun Kereta Api (KA) Cibadak, Kabupaten Sukabumi, setiap sore jika tidak hujan, anak-anak memainkan bola kecil terbuat dari marmer ini dengan riang gembira.

Permainan ini tidak hanya mengadu ketangkasan tapi juga taktik, sehingga cukup menyenangkan bermain secara kelompok. “Murah, pak. Maenna ge teu hese. Belajar sakali ge langsung bisa,†tutur salah seorang anak Kampung Sukajadi, Kelurahan Cibadak, Arie Andi (12) kepada sukabumiupdate.com, Sabtu (17/12).
Arie bermain kaceli bersama sejumlah anak kampung lainnya di pinggir rel kereta. Permainan mereka cukup seru sehingga menarik perhatian banyak warga, termasuk orang dewasa yang akhirnya tergoda untuk ikut bermain.
“Sok saha nu teu apal kaleci. Ti jaman balanda ge tos aya. Kaleci nepikan ayeuna ge kitu kitu keneh,†ujar Edi Rahman (49), yang akhirnya ikut mengenang masa lalu dengan bermain Kaleci bersama anak-anak.
Permaian ini, menurut Edi, lebih positif dibandingkan video game online melalui gadget, yang saat ini digemari anak anak. “Mainnya berkelompok, jadi lebih sosial dibandingkan maen pe-ess atau game internet. Kaleci mah banyak positifnya,†pungkasnya.
Sekedar informasi, Kaleci di kalangan masyarakat Sunda, di Betawi menyebut Kelereng atau Gundu, di Jawa disebut Neker, atau Ekar di Palembang, dan masih banyak lagi sebutannya di Indonesia. Kaleci mulai di kenal di tanah air dari bangsa Eropa khususnya Belanda.
Sinyo-sinyo Belanda menyebutnya dengan knikkers, dari sinilah Kelereng mulai dikenal dan mainkan oleh pribumi Indonesia sejak tahun 1694. Di Inggris ada istilah marbles untuk menyebut kelereng.
Marbles sendiri digunakan untuk menyebut Kelereng marmer yang didatangkan dari Jerman. Namun, jauh sebelumnya, anak-anak di Inggris telah akrab menyebutnya dengan bowls atau knikkers.
Jauh pada peradaban Mesir kuno, tahun 3000 SM, kelereng terbuat dari batu atau tanah liat. Kelereng tertua koleksi The British Museum di London berasal dari tahun 2000-1700 SM. Kelereng tersebut ditemukan di Kreta pada situs Minoan of Petsofa.
Pada masa Rowami, permainan Kelereng juga sudah dimainkan secara luas. Bahkan, menjadi salah satu bagian dari Festival Saturnalia, yang diadakan saat menjelang perayaaan Natal.
Saat itu, semua orang saling memberikan sekantung biji-bijian yang berfungsi sebagai Kelereng tanda persahabatan. Salah seorang penggemar Kelereng adalah Octavian, kelak menjadi Kaisar Agustus.
Layaknya permainan, di Romawi saat itu juga mempunyai aturan-aturan resmi. Peraturan tersebut menjadi dasar permainan sekarang.
Teknologi pembuatan kelereng kaca ditemukan pada 1864 di Jerman. Kelerang yang semula satu warna, menjadi berwarna-warni mirip permen. Teknologi ini segera menyebar ke seluruh Eropa dan Amerika.
Namun, akibat Perang Dunia II, pengiriman mesin pembuat Kelereng itu sempat terhenti dan akhirnya masing-masing negara mengembangkannya sendiri. dari berbagai sumber