SUKABUMIUPDATE.com - Dua warga Kampung Babakan RT 03/07, Desa Karang Tengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, merelakan waktunya untuk menjadi penjaga perlintasan rel kereta api (KA), tepatnya di Jalan Alternatif Nagrak.
Pantauan sukabumiupdate.com, kedua penjaga "partikelir" tersebut membagi tugas mereka dengan menjaga arus lalu lintas di kiri dan kanan jalan. Keduanya rela berbasah peluh di bawah terik matahari, dan kucuran air saat hujan turun. Demi keselamatan para pengguna jalan.
"Saya terketuk hati melihat perlintasan rel kereta api yang bukan saja nggak ada palang pintunya, tapi juga tidak ada petugas yang berjaga di tempat ini," ujar salah seorang dari penjaga perlintasan, Wawan Karmawan (55), Kamis (19/1) sore.
BACA JUGA:
Lubang Jalan Menganga di Pertigaan Stasiun KA Parungkuda
Warga Karangtengah Kecamatan Cibadak Keluhkan Drainase Rusak
Pemkab Jangan Bermulut Manis, di Trotoar Cicurug-Cibadak Banyak Lapak PKL Permanen
Padahal, menurut Wawan, daerah tersebut rawan kecelakaan, akibat tidak memiliki palang perlintasan. Menurutnya, beberapa waktu ke belakang, sempat dibuat palang oleh Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Kepolisian Resor (Polres) Sukabumi. Namun, palang perlintasan tersebut kini sudah rusak lagi.
Ditambahkan Wawan, pernah sekira satu tahun lalu, seorang tukang gorengan dengan gerobak, keserempet KA hingga gerobaknya hancur. Bahkan dua warga Desa Balekambang, Kecamatan Nagrak, dan Desa Karang Tengah, tewas terlindas KA.
"Kami menjaga di sini juga nggak ada yang minta, keinginan sendiri aja membantu pengguna jalan agar jangan sampai ada kecelakaan lagi," ujar Wawan lebih jauh.
Wawan tidak berharap imbalan dari para pengguna jalan, karena jika pun ada yang memberinya imbalan, tidak lebih dari sebatang rokok atau uang recehan Rp500. Ia hanya berpikir tidak boleh ada lagi korban jatuh akibat ketiadaan palang perlintasan KA.
"Adapun yang ngasih ke saya, bisa dilihat sendiri, hanya lima ratus Rupiah, atau kadang rokok sebatang. Namanya rezeki tetap diterima, tapi kami sendiri nggak mengharapkan imbalan," pungkasnya seraya memperlihatkan uang pecahan Rp500 warna kuning emas, pemberian dari pengendara yang melintas.
Ia tetap bersyukur walau pun dari pagi hingga pagi lagi kadang hanya mendapat Rp27 ribu atau kurang. Terpenting baginya, tidak ada lagi korban jiwa akibat terserempet atau tertabrak KA.