SUKABUMIUPDATE.com - Pegiat sejarah angkat bicara soal keberadaan markas militer Kota Hiroshima 2 di Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi. Irman Sufi Firmansyah salah seorang tokoh dibalik komunitas Sukabumi Heritage, membenarkan jika puing-puing bangunan besar tersebut adalah bekas markas tentara Nippon yang dibangun sekitar tahun 1943.
Kedatangan Jepang ke Sukabumi, diawali dengan perundingan antara Belanda dan Jepang di Hotel Salabintana pada 24 September 1940. Wakil Jepang dalam perundingan tersebut adalah Kobayashi, sementara wakil Belanda Van Mook.
Jepang berkeinginan menduduki Indonesia, khususnya Sukabumi untuk kepentingan militer dalam Perang Dunia (PD) II. “Jepang mendarat di Banten, masuk ke wilayah Sukabumi melalui Cibadak setelah sebelumnya menyerang Kota Sukabumi yang saat itu masih dikuasi Belanda, pada tanggal 6 Maret 1942,†kata Irman membuka obrolan panjang tentang Hiroshima 2 dengan sukabumiupdate.com, Kamis (25/1).
Setelah menguasai Sukabumi, tentara Jepang membuat sejumlah pos pertahanan di pesisir Selatan untuk mengantisipasi serangan sekutu Amerika, yaitu Australia. Jepang pun membuat dua bunker militer di Ciemas dan Pelabuhanratu, dan markas besar untuk konsolidasi pasukan.
BACA JUGA:
Ada Emas di Hiroshima 2 Desa Tegalpanjang Kecamatan Cireunghas Kabupaten Sukabumi, Ini Kesaksiannya!
Ini Gambar Kota Hiroshima 2 di Desa Tegalpanjang Cireunghas Kabupaten Sukabumi Versi Veteran TNI
Tentara Jepang Pernah Bangun Hiroshima 2 di Desa Tegalpanjang Cireunghas Kabupaten Sukabumi
“Kota Hiroshima 2 di Tegalpanjang inilah markas besar tentara Jepang. Mereka membangun jalan dari Sukalarang ke Tegalpanjang untuk akses dari Utara dengan cara kerja paksa atau romusha. Penduduk sekitar dipaksa bekerja selama 12 jam dengan upah hanya segelas beras,†lanjut Irman.
Kawasan ini dibangun tahun 1943 tepatnya di Kampung Pojok, Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireunghas, lokasinya tersembunyi dari jalan dan dikelilingi bukit-bukit. Menurut Irman, posisi ini dipilih sebagai benteng pertahanan karena Jepang masih khawatir mendapatkan serangan dari Amerika dan sekutunya.
Di lokasi tersebut, Jepang juga membangun pabrik Kina untuk keperluan medis tentara Jepang. Dibangun juga gudang makanan dan hasil bumi, gudang amunisi serta bengkel kendaraan perang.
“Tidak hanya itu, konon percetakan uang Jepang dan terowongan bawah tanah, namun karena tanahnya labil jadi roboh terus, sampai akhirnya dibatalkan. Kawasan itu dari dulu sudah tersambung listrik dan telepon. Warga yang tinggal disitu diminta pergi. Tidak kurang dari 18 bangunan didirikan di situ dengan kode 1-18, konon banyak pekerja bangunan yang terbunuh di tangan Jendral Saptuji sebagai pimpinan markas," tuturnya.
Bersambung...