Sukabumi Update

Lari Maraton Bisa Berdampak pada Ginjal, Ini Studinya

SUKABUMIUPDATE.com - Pikirkanlah kembali kalau ingin melakukan lari maraton di atas jarak 30 kilometer. Atau, setidaknya lakukanlah latihan yang cukup intensif terlebih dulu sebelum melakukan maraton dan tidak mengkonsumsi obat-obatan anti-peradangan.

Sebab, selain berdampak pada nyeri di pinggul, lutut, dan kaki, menurut studi terbaru, lari maraton punya akibat pada ginjal.

Studi yang berjudul "Kidney Injury and Repair Biomarkers in Marathon Runners" itu terbit dalam jurnal American Journal of Kidney Diseases edisi 28 Maret 2017. Studi ini melihat 22 peserta yang ikut Hartford Connecticut Marathon 2015 ternyata mengalami kerusakan ginjal akut setelah balapan.

"Setelah lomba, ginjal ke-22 peserta gagal menyaring limbah darah," demikian menurut tim dalam jurnal. Beruntungnya, pada hari kedua, fungsi ginjal mereka kembali normal. Yang jelas, menurut Chirag Parikh, profesor bidang nefrologi, ilmu tentang ginjal, dari Yale University, itu merupakan dampak jangka pendek maraton.

Parikh mengatakan, seperti dikutip dari laman berita Knowridge edisi 9 Juni 2017, dampak jangka pendek dan panjang dari maraton selama ini belum terungkap. Dan, kata dia, sepertinya tidak terlalu diperhatikan oleh para pelari.

Dampak maraton pada ginjal itu terungkap setelah Parikh dan tim melihat sampel darah dan urine dari 22 peserta tersebut yang dikumpulkan sebelum dan setelah berlari. Tes ini termasuk mengukur kadar kreatinin darah dan protein dalam urine, serta melihat sel ginjal.

Kreatinin adalah limbah darah yang disaring oleh ginjal. Mengukur zat ini dalam darah bisa melihat kesehatan ginjal. "Hasilnya, kami menemukan 22 pelari itu mengalami cedera pada ginjal setelah berlari," kata Parikh.

Penyebabnya? Studi Parikh dan tim belum sampai sana. Meski begitu, mereka memiliki beberapa hipotesis, di antaranya kenaikan suhu tubuh secara drastis, dehidrasi, dan penurunan aliran darah ke ginjal, yang terjadi selama maraton.

"Saat berlari, darah dipompa ke kulit dan otot. Hal itu bisa jadi menyebabkan ginjal kekurangan pasokan darah seperti biasanya," demikian pernyataan tim dalam jurnal.

Studi ini memperkuat studi sebelumnya yang diterbitkan pada 2011 oleh Peter McCullough, Wakil Kepala Bidang Kedokteran Baylor University di Dallas, Amerika Serikat. 

Studi McCullough dan tim mengevaluasi dampak maraton terhadap 25 peserta yang terdiri atas laki-laki dan perempuan. Studi tersebut menemukan 40 persen pelari mengalami cedera ginjal akut berdasarkan tingkat kreatinin darah mereka.

"Yang belum mereka dan kami temukan adalah apakah dampak pada ginjal ini bisa menjadi kronis. Juga, strategi untuk mencegah dehidrasi ginjal," kata McCullough, yang tak tergabung dalam studi Parikh dan tim. "Studi lanjutan sangat penting."

Parikh menyatakan studi mereka memang belum sampai pada hal itu. Menurut dia, ada kemungkinan ginjal beradaptasi dari waktu ke waktu.

Tentunya, Parikh dan tim tidak boleh berhenti sampai sini. Banyak atlet marato0n di luar sana yang ginjalnya bisa saja rusak karena aktivitas mereka. Untuk sementara, Parikh dan tim menyarankan semua orang yang akan mengikuti kejuaraan maraton untuk melaporkan riwayat kesehatan keluarga, terlebih kalau ada sejarah penyakit ginjal di dalam keluarga.

Cathy Fieseler, dokter bidang olahraga di Christus Trinity Mother Frances Health System di Texas, memberi sedikit saran. "Hindari obat anti-inflamasi sebelum lari maraton," kata dia, yang juga Direktur Medis American Running Association.

Obat-obatan tersebut di antaranya mengandung ibuprofen naproxen. Obat anti-peradangan, menurut dia, bisa menurunkan fungsi ginjal. Selain itu, kata dia, lakukan latihan yang cukup intensif sebelum mengikuti perlombaan maraton dan periksa ginjal Anda setelahnya. 

 

Sumber: Tempo

Tags :
BERITA TERPOPULER
BERITA TERKINI