SUKABUMIUPDATE.COM - Keputusan pemerintah membuka kran impor besar-besaran untuk komoditas pertanian, berdampak serius pada petani tradisional di wilayah Pajampangan, Kabupaten Sukabumi. Saat ini harga singkong ditingkat petani hanya dibandrol Rp700 per kilogram.
Dengan harga rendah seperti saat ini, petani memilih tidak melakukan panen karena hanya akan membuat mereka rugi. Harga singkong dengan biaya produksi dianggap tidak berimbang.
“Ini singkong saya nanam sudah setahun lalu, sampai sekarang belum dipanen karena harga murah paling 700 Rupiah per kilogram, kalau dijual modal pun tidak kembali,†jelas Zenal Mutaqin (53) salah satu petani di Desa Purabaya, Senin (5/12).
Masa panen singkong biasanya rata-rata sembilan hingga sepuluh bulan, dengan harga minimal Rp1.200 hingga Rp1.500 per kilogram. “Tahun ini harga singkong benar benar jatuh. Jadi tidak semangat rek usaha," lanjut Zenal.
Menurut warga Kampung Babakan RT 05/02 ini, seharusnya pemerintah melindungai usaha petani kecil dan penggarap. Zenal dan beberapa petani lainnya, selama ini bercocok tanam tumpang sari dilahan perkebunan.
“Singkong yang dulu menjadi andalan karena harganya bagus, sekarang benar-benar bikin petani merugi. Saya harap pemerintah bikin aturan pasar untuk melindungi petani kecil, jangan selalu dibantai oleh pemegang modal,†tandasnya.
Editor : Administrator