SUKABUMIUPDATE.com - Mata rantai distribusi bisa jadi menjadi faktor lain selain cuaca yang mempengaruhi mahalnya harga cabai belakangan ini. Hanya saja, untuk memutus mata rantai itu bukan perkara mudah.
"Kita bicara logika saja. Jika cabai sedang melimpah, ada nggak tengkulak yang memborong? Saya rasa tidak ada, karena untungnya kecil. Tapi sekarang yang bisa dikatakan musim paceklik cabai, coba lihat, pasti cabai menjadi barang buruan karena bisa memberikan keuntungan lebih," terang Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM) Perindustrian dan Perdagangan Kota Sukabumi Wahyu Setiawan, Minggu (8/1).
Lanjut Wahyu kepada sukabumiupdate.com, fenomena itu sering terjadi. Ia menyontohkan komoditas telur. Setiap kali mendekati Idul Fitri, harga telur biasanya melambung dipicu panjangnya mata rantai distribusi. "Kalau istilah Sunda itu paciwit-ciwit keuntungan."
Sebetulnya bisa saja pemerintah memangkas mata rantai distribusi itu. Tapi kan kasihan juga yang ada di bawah karena mereka juga punya kehidupan. Tapi tampaknya pemerintah belum ada upaya ke arah sana," jelasnya.
Tapi informasi yang diperoleh di lapangan, sebut Wahyu, mahalnya harga cabai saat ini lebih disebabkan faktor cuaca dan faktor alam. Jika kondisi cuaca terus-menerus seperti ini, upaya lainnya nanti bisa berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan.
"Mungkin nanti orang dari dinas pertanian bisa memikirkan jenis cabai apa yang sekiranya cocok ditanam dengan kondisi cuaca seperti ini," tandasnya.
Sementara di lapangan, berangsur melonjaknya harga cabai rawit saat ini lebih dipicu minimnya pasokan dari sentra-sentra pertanian. Sekarang harganya bertahan di kisaran Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram.
"Persediaan dan pasokan cabai rawit sejak dua bulan terakhir terus-menerus kurang. Makanya, sekarang harganya terus naik," terang Dede (40) pedagang sayuran di Pasar Lettu Bakrie.
Naiknya harga cabai rawit diikuti komoditas sayuran lainnya. Cabai merah lokal, misalnya, dari Rp23 ribu menjadi Rp33 ribu/kg, bawang putih dari Rp30 ribu naik menjadi Rp40 ribu/kg, kentang semula Rp10 ribu menjadi Rp13.500/kg, dan wortel dari Rp4 ribu menjadi Rp6 ribu/kg. "Kalau dibilang rugi, ya rugi juga sih. Pembeli jadi berkurang," tegasnya.
Editor : Administrator