SUKABUMIUPDATE.com - Dinas KUKM (Koperasi Usaha Kecil dan Menengah) Perindustrian dan Perdagangan Kota Sukabumi menyakini terus naiknya harga cabai rawit merah bukan lantaran penimbunan.
"Bagaimana mau ditimbun jika usia cabai itu hanya kuat satu minggu. Lewat satu minggu bisa busuk. Jadi, kecil kemungkinan adanya spekulan yang mencoba memainkan harga," terang Kepala Dinas KUKM Perindustrian dan Perdagangan Ayep Supriatna kepada sukabumiupdate.com, Selasa (10/1).
Ayep lebih yakin naiknya harga komoditas itu akibat kondisi cuaca. Ia pun menjamin jika kondisi cuaca kembali berlangsung normal, harga cabai rawit merah juga akan ikut-ikutan turun.
"Saya juga petani. Jadi tahu dengan kondisi tanaman. Kalau terlalu banyak kena air kan tidak baik. Jadi cepat busuk. Hasil laporan di lapangan juga menyebutkan lebih karena faktor cuaca," aku Ayep.
Ia tak menampik penaikan harga cabai rawit terbilang sporadis sejak beberapa waktu terakhir. Hanya dalam satu pekan saja selisih penaikannya bisa mencapai Rp10 ribu per kilogram. "Minggu lalu harganya Rp85 ribu. Sekarang sudah mencapai Rp95 ribu," ucap Ayep.
Hanya saja melonjaknya harga cabai rawit merah saat ini tak dibarengi dengan upaya pengendalian dari pemerintah. Mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi itu mengaku, pemerintah tak bisa mengintervensi harga cabai rawit merah karena bukan merupakan komoditas kebutuhan pokok.
"Kita tak bisa melaksanakan OP (operasi pasar-red) cabai rawit merah. Bulog juga sebagai penyedia kebutuhan masyarakat tidak bisa menyediakan. Beda dengan beras atau daging sapi dan ayam. Ketika harganya naik, bulog bisa menyediakannya. Sehingga, kita bisa menggelar OP," jelasnya.
Editor : Administrator