SUKABUMIUPDATE.com - Biasanya jika produksi turun, maka harga sebuah produk akan naik, namun hal ini tidak berlaku bagi komoditas gula kelapa. Perajin gula kelapa tradisional di Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi mulai mengeluh, pasalnya harga jual anjlok, dari Rp12 ribu menjadi Rp9.700 perkilogram.
Usaha rakyat ini kian lemas manakala harga jual turun, tapi ongkos produksi justru malah naik. Harga bahan campuran untuk pengawet naik dari Rp8 ribu menjadi Rp16 ribu/kg.
BACA JUGA:
Anda Perlu Ayam Kampung? Datanglah ke Cicantayan Kabupaten Sukabumi
Kecamatan Cicurug Fasilitasi Usaha Sepatu Pengungsi Aleppo
Bertahan Hidup Pengungsi Aleppo di Cicurug Produksi Sepatu Kulit Murah Meriah
Dituturkan salah seorang perajin, Kasimin (41), warga Kampung Karyatani, selama musim hujan dengan intesitas tinggi seperti saat ini, kebutuhan zat tambahan (biang) menjadi lebih banyak. Penyebabnya, air nira kelapa akan bercampur air hujan sehingga menurunkan kualitas gula.
“Untuk menghilangkan rasa hambar, perlu tambahan biang pengawet,†jelas Kasimin kepada sukabumiupdate.com, Senin (16/1).
Cuaca ekstrim seperti saat ini juga membuat potensi panen menjadi berkurang. "Dari 70 pohon, yang bisa disadap hanya 40 pohon, licin dan sering banyak petir,†tambah perajin lainnya, Suratman (40), warga Kampung Waluran.
Suratman pun berharap ada bantuan dari pemerintah daerah, khususnya untuk zat pengawet berbahan alami. “Empat bulan lalu, saya pernah pakai kapur dan getah kayu pohon nangka, tapi kalau musim hujan begini susah mengeras,†ungkapnya.
Editor : Administrator