SUKABUMIUPDATE.com - Petani bawang merah di Desa Pangumbahan, Kecamatan Cicarap, Kabupaten Sukabumi, berharap cuaca bisa segera membaik. Cuaca tak menentu dengan hujan dan panas ekstrem mengancam produksi dan hasil panen.
Hendi (40), salah seorang petani bawang, di Kampung Cikanyere RT 06/07, mengatakan, pertumbuhan bawang merah mengalami kondisi tidak normal akibat cuaca. “Kemarin panas cuacanya sekarang sudah beberapa hari turun hujan deras, daun bawang jadi keriting dan bagalnya busuk,†tuturnya kepada sukabumiupdate.com.
Tak mau rugi akibat gagal panen, Hendi dan sejumlah petani bawang lainnya pun melakukan langkah antisipasi dengan menambahkan lebih banyak pestisida (obat hama). Ancaman gagal panen ini diperparah dengan lonjakan harga benih, pupuk, dan pestisida.
 “Saya nanam sebanyak 300 kilogram bibit dengan luas lahan 1200 m2. Harga benih sebulan yang lalu 30 ribu Rupiah per kilogram tapi sekarang naik jadi 50 ribu sampai 55 ribu Rupiah per kilogram. Modal jadi makin mahal,†lanjut Hendi.
BACA JUGA:
Anwar Sadad: Pemkab Sukabumi Harus Carikan Solusi Bibit Bawang Merah
Petani dan Koperasi Kabupaten Sukabumi Sukses Kembangkan BUMR
Hampir Setengah Lahan Pertanian di Kabupaten Sukabumi Gagal Panen
Petani Surade Kabupaten Sukabumi Ogah Jual Gabah ke Bulog
Dalam satu minggu terakhir, Hendi dan sejumlah petani dalam kelompoknya sudah menghabiskan belanja modal hingga Rp2 juta untuk membeli pestisida dan pupuk tambahan. “Kami berharap saat panen nanti harga tidak jeblok,†pungkasnya.
Saat ini harga jual bawang di tingkat petani Rp30 ribu/kg. Harga yang menurut petani bagus karena tidak merugikan. Namun beberapa bulan sebelumnya, harga sempat turun ke Rp18 ribu hingga Rp20 ribu/kg.
 “Alasan tengkulak banyak bawang impor dan panen raya bawang. Kami kadang tidak bisa berbuat banyak. Harga tergantung tengkulak,†tambah Duloh (37), petani bawang asal Kampung Cikarenye lainnya.
Editor : Administrator