SUKABUMIUPDATE.com – Sebuah video yang beredar di media sosial mengklaim bahwa kemunculan Hantavirus merupakan bagian dari Agenda 2030 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Narasi tersebut mengaitkan penyebaran virus dengan program pembangunan global yang dikenal sebagai Sustainable Development Goals (SDGs).
Namun, benarkah klaim tersebut?
Klaim
Video yang beredar menyebut Hantavirus sengaja dimunculkan sebagai bagian dari Agenda 2030 PBB. Narasi itu juga menghubungkan program pembangunan berkelanjutan dengan berbagai teori konspirasi mengenai pengendalian populasi dan penyebaran penyakit global.
Penelusuran Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran sejumlah lembaga pemeriksa fakta, klaim tersebut tidak didukung bukti ilmiah maupun dokumen resmi PBB.
Dikutip dari laporan pemeriksa fakta Tempo.co yang terbit pada 21 Mei 2026, Epidemiolog dari Heidelberg Institute of Global Health, Melani Ratih Mahanani, menegaskan bahwa tidak ada satu pun tujuan dalam Agenda 2030 yang berkaitan dengan penyebaran penyakit.
“Tidak ada satu pun dari 17 SDGs yang berkaitan dengan penyebaran penyakit” ujar Melani.
Melani menjelaskan bahwa Agenda 2030 atau Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan kesepakatan global yang disetujui oleh 193 negara anggota PBB untuk mendorong pembangunan berkelanjutan. Program tersebut mencakup berbagai target, mulai dari pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan masyarakat, kesetaraan gender, hingga perlindungan lingkungan.
Baca Juga: Waspada! Hoaks Pendaftaran Beasiswa Gratis Mengatasnamakan Kemendikdasmen Beredar di Facebook
Pakar kesehatan masyarakat sekaligus epidemiolog, Dicky Budiman, juga membantah narasi yang menyebut Hantavirus sengaja diciptakan atau disebarkan sebagai bagian dari agenda tertentu.
Menurut Dicky, kemunculan kasus Hantavirus lebih dipengaruhi oleh faktor ekologis seperti perubahan iklim, urbanisasi, deforestasi, dan meningkatnya interaksi manusia dengan hewan pengerat yang menjadi inang virus tersebut.
"Hantavirus bukan virus baru. Virus ini sudah dikenal sejak Perang Korea pada era 1950-an dan telah lama menjadi objek penelitian medis," jelas Dicky.
Secara ilmiah, Hantavirus ditularkan melalui kontak dengan tikus atau hewan pengerat yang terinfeksi, baik melalui urine, kotoran, maupun air liurnya.
Penelusuran juga menunjukkan bahwa Agenda 2030 PBB kerap dikaitkan secara keliru dengan berbagai teori konspirasi, seperti depopulasi manusia, pemerintahan dunia tunggal, maupun kewajiban vaksinasi global. PBB sendiri telah berulang kali menegaskan bahwa Agenda 2030 berisi target pembangunan berkelanjutan dan tidak memuat agenda penyebaran penyakit ataupun pengurangan populasi manusia.
Kesimpulan
Klaim bahwa Hantavirus merupakan bagian dari Agenda 2030 PBB adalah tidak benar atau HOAKS.
Tidak ditemukan bukti yang menunjukkan adanya hubungan antara kemunculan Hantavirus dengan program Sustainable Development Goals (SDGs) PBB. Para pakar kesehatan menegaskan bahwa Hantavirus merupakan penyakit yang telah dikenal sejak puluhan tahun lalu dan penyebarannya berkaitan dengan faktor lingkungan serta kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi.
Masyarakat diimbau untuk selalu memverifikasi informasi kesehatan melalui sumber resmi dan tidak mudah mempercayai narasi yang beredar di media sosial tanpa dasar ilmiah yang jelas.
Sumber:
Tempo Cek Fakta (21 Mei 2026)
Jala Hoaks DKI Jakarta
Informasi resmi Sustainable Development Goals (SDGs) PBB
Penulis: Annisa Nurizkiawan, Mahasiswa Magang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Sukabumi
Editor : Denis Febrian