SUKABUMIUPDATE.com – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpancing informasi menyesatkan terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau yang saat ini berstatus Level III atau Siaga.
Imbauan tersebut menyusul beredarnya video viral di media sosial yang memperlihatkan erupsi besar Gunung Anak Krakatau pada malam hari. Dalam video itu terlihat semburan api dan material vulkanik membumbung tinggi ke langit dari tengah laut.
Namun, PVMBG memastikan video tersebut bukan rekaman aktivitas terkini Gunung Anak Krakatau.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan bahwa video yang direkam dari atas kapal tersebut merupakan informasi yang tidak sesuai dengan kondisi saat ini.
“Seluruh informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi atau PVMBG dan MAGMA Indonesia," kata Lana dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).
Baca Juga: Cek Fakta: Benarkah Pertalite Akan Dihapus pada 2027? Ini Penjelasan Resminya
Aktivitas Gunung Anak Krakatau Masih Dipantau
Berdasarkan data resmi PVMBG, Gunung Anak Krakatau memang mengalami dua kali erupsi dalam beberapa hari terakhir, yakni pada Kamis (2/7/2026) pukul 14.05 WIB dan Jumat (3/7/2026) pukul 11.50 WIB.
Meski demikian, aktivitas vulkanik tersebut masih berada dalam pemantauan intensif petugas dan tidak seperti yang digambarkan dalam video viral yang beredar di media sosial.
PVMBG mengingatkan masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi karena dapat menimbulkan kepanikan.
Sejarah Aktivitas Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah panjang aktivitas vulkanik yang berdampak besar. Letusan dahsyat Krakatau pada tahun 1883 tercatat memicu tsunami besar yang menimbulkan korban jiwa dalam jumlah sangat banyak.
Peristiwa serupa kembali terjadi pada 22 Desember 2018 ketika longsoran sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau akibat aktivitas vulkanik memicu tsunami di wilayah pesisir Selat Sunda.
Sejak peristiwa tersebut, aktivitas erupsi berskala rendah masih terus berlangsung hingga 16 Desember 2023 sebagai bagian dari proses pertumbuhan kembali tubuh gunung.
Menurut Lana, meskipun saat ini Gunung Anak Krakatau berada dalam fase jeda erupsi, aktivitas magmatik berenergi rendah masih terus terjadi.
Baca Juga: Cek Fakta: Lowongan Kerja BCA 2026 yang Beredar di TikTok Ternyata Hoaks
Radius Bahaya Tetap 3 Kilometer
PVMBG juga meluruskan informasi lain yang menyebut radius bahaya Gunung Anak Krakatau mencapai lima kilometer.
Menurut Lana, informasi tersebut tidak benar. Hingga saat ini rekomendasi resmi yang berlaku adalah larangan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi.
"Masyarakat, wisatawan, maupun nelayan tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau," ujarnya.
Masyarakat Diminta Tetap Tenang
Saat ini status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). PVMBG meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya vulkanik seperti awan panas, aliran lava, lontaran material pijar, maupun hujan abu.
Meski demikian, warga di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan tidak mudah mempercayai isu yang mengaitkan aktivitas Gunung Anak Krakatau dengan potensi tsunami tanpa dasar ilmiah.
"Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami. Masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa dengan tetap mengikuti arahan BPBD setempat," kata Lana.
Sumber: Tempo.co
Editor : Denis Febrian