SUKABUMIUPDATE.com - Nasib nahas menimpa Firman (39 tahun), salah seorang pemburu gigi hiu purba atau warga lokal menyebutnya Huntu Gelap.

Pria asal Kampung Cilutung Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi tersebut mengalami patah tulang akibat tertimpa longsoran batu, saat sedang menggali.

"Kejadiannya enam bulan yang lalu, jam 12 malam di lokasi Hutan Cilutung. Saat itu sedang menggali di bawah tebing empat meter, dengan posisi tubuh berbaring miring, terus dihantam longsoran batu," kata Firman saat diwawancarai sukabumiupdate.com, Selasa (21/10/2020).

BACA JUGA: Mengintip Lokasi Berburu Gigi Hiu Purba (Huntu Gelap) di Surade Sukabumi

Ia mengulas, pada saat itu ia sedang berdia bersama salah satu temannya sesama pemburu Huntu Gelap. Longsoran batu, kata Firman, menimpa kakinya, lalu mengenai paha temannya.

"Ukuran batu tidak terlihat karena kondisi malam, namun dirasakan cukup berat, sehingga di lokasi sempat keluar darah. Saat tertimpa longsoran batu masih sadar. Pertama kali berburu huntu gelap dan mengalami kecelakaan," imbuhnya.

"Dari hasil rontgen kaki kiri patah dan tulang belakang retak. Sekarang ini mulai dari pinggang ke bawah kaki mati rasa, juga buang air tidak terasa," paparnya.

BACA JUGA: Cangkang Kerang Purba Ini Ungkap Hari di Zaman Dinosaurus Lebih Pendek

Ia mengaku pernah berobat ke RSUD Jampangkulon, lalu disarankan untuk berobat ke RS Hasan Sadikin Bandung. Namun karena kendala biaya, akhirnya ia lebih memilih berobat di kampung saja. "Seminggu sekali berobat baik medis, maupun tradisional," ungkapnya.

Firman yang awalnya jualan kerupuk, memiliki dua orang anak. Selama berobat enam bulan, ia sudah  menggadaikan sawah Rp 15 juta. "Semoga ada bantuan kursi roda," pungkas Firman.

Sementara itu, Ajo (21 tahun) pemburu Huntu Gelap asal Kampung Cigulingan, Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade cenderung lebih beruntung. Ia mengaku sudah mulai menambang dari bulan Ramadan lalu.

Firman (39 tahun) saat dijenguk tim Jampang Peduli. Ia adalah pemburu gigi hiu purba (Huntu Gelap) di Surade, Kabupaten Sukabumi yang sempat tertimpa longsoran batu.

Ia bisa menggali sampai 4-5 meter, lalu mendapati ada fosil kerang. Jika ada fosil kerang, Ajo memastikan pasti ada fosil hiu purba atau yang ia sebut Huntu Gelap.

"Kalau pendapatan, bisa tiga minggu sekali, atau bisa satu minggu berturut-turut. Menambang di lahan milik pribadi, bukan milik negara. Kalau tambang sudah beres, rencana mau dijadikan kandang ayam," tandas Ajo.

Ingat pesan ibu: Wajib 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun). Redaksi sukabumiupdate.com mengajak seluruh pembaca untuk menerapkan protokol kesehatan Covid-19 di setiap kegiatan.