SUKABUMIUPDATE.com - Di tengah derasnya arus pembangunan yang kerap mengabaikan daya dukung lingkungan, perjalanan sunyi namun sarat makna ditempuh oleh puluhan perwakilan masyarakat adat dari berbagai penjuru Pulau Jawa. Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Sukabumi Fraksi PKB, Bayu Permana, turut menyatu dalam perjalanan ini, sebuah ekspedisi yang tidak hanya menelusuri ruang geografis, tetapi juga merajut kesadaran kosmologis tentang hubungan manusia dan alam.
Ekspedisi Nusa Jawa sebelah barat, yang dalam tradisi Patanjala disebut Laku Estu Patanjala di Kabuanaan, berlangsung selama sepekan, dari 26 April hingga 2 Mei 2026. Sebanyak 50 utusan Incu Putu Nusa Jawa—perwakilan masyarakat yang mengamalkan nilai-nilai Patanjala di berbagai Daerah Aliran Sungai (DAS)—bergerak menyusuri lanskap spiritual dan ekologis yang diyakini sebagai simpul-simpul penting Pulau Jawa.
Perjalanan ini mempertemukan berbagai wilayah penting: DAS Cisanggarung di kaki Gunung Ciremai (paling jauh), Cimanuk di Papandayan dan Cikuray, hingga Ciwulan, Citarum, Ciliwung, Cimandiri, dan Cibareno. Titik awal ekspedisi berada di Sub DAS Cicatih, Kabupaten Sukabumi, sebelum rombongan bergerak menuju Kasepuhan Urug di Bogor melalui Kabandungan—jalur yang bukan hanya menghubungkan ruang, namun juga menyatukan tradisi.
Dalam penjelasan panjangnya, Bayu mengurai fondasi filosofis dari ekspedisi ini. Ia menegaskan bahwa dalam pandangan Patanjala, Pulau Jawa bukan hanya bentang daratan, melainkan entitas hidup yang memiliki struktur layaknya tubuh manusia.
“Pulau Jawa diyakini sebagai pusat dunia karena terbentuk dari pertemuan tiga lempengan tektonik besar yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Dari situ muncul keyakinan bahwa keseimbangan dunia sangat ditentukan oleh keseimbangan Pulau Jawa,” kata dia kepada sukabumiupdate.com, Minggu (3/5/2026).
Baca Juga: Sukabumi Resmi Punya Perda Patanjala, Dewan Bayu: Tonggak Pelestarian Budaya dan Lingkungan
Ia melanjutkan dengan analogi yang menjadi inti dari kosmologi Patanjala. “Sebagaimana tubuh manusia, Pulau Jawa memiliki bagian-bagian vital, mulai kepala, leher, pusar, dada, organ reproduksi, hingga alas kaki. Di setiap bagian itu terdapat titipan nilai strategis yang harus dijaga agar keseluruhan sistem tetap seimbang.”
Pandangan ini bukan sekadar simbolik. Dalam praktiknya, setiap titik geografis yang disinggahi dalam ekspedisi memiliki fungsi ekologis dan spiritual tertentu. Gunung, hutan, dan aliran sungai tidak hanya dilihat sebagai sumber daya, tetapi penjaga harmoni.
Gunung Liman dan Sumber Kehidupan
Salah satu puncak dari ekspedisi ini adalah ritual pengambilan air di Gunung Liman, Kabupaten Lebak, Banten, yang dalam tradisi Patanjala disebut sebagai “gentong bumi” Pulau Jawa atau kawasan tangkapan air utama (catchment area) yang menopang kehidupan banyak orang.
Air yang diambil dari Gunung Liman tidak berhenti sebagai simbol. Ia akan dibawa menuju Alas Purwo, yang dimaknai sebagai “alas kaki/dampal” Pulau Jawa, untuk kemudian dikucurkan dalam prosesi lanjutan. Rangkaian ini mencerminkan siklus kehidupan: dari sumber hingga muara.
“Air adalah pengikat kehidupan. Dalam Patanjala, menjaga air berarti menjaga seluruh sistem kehidupan. Karena itu, prosesinya dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab,” kata Bayu.
Tak hanya itu, rombongan juga mengelilingi Lebak Cawene—wilayah yang diyakini sebagai penjaga utama gentong bumi. Kawasan ini membentang dari Gunung Liman hingga Gunung Bengkok dan pegunungan Halimun Salak lainnya, menjadi benteng ekologis yang diwariskan secara turun-temurun.
Secara historis, Bayu menjelaskan, kawasan Lebak dan Sukabumi menjadi rumah bagi ratusan kasepuhan atau komunitas adat yang memegang mandat leluhur untuk menjaga keseimbangan alam. Salah satu bentuk konkret dari mandat tersebut adalah konsep Leuweung Titipan yakni hutan yang dititipkan oleh leluhur untuk dijaga dan tidak dieksploitasi secara sembarangan.
Ekspedisi ini secara sadar menapaki jejak-jejak kasepuhan itu. Di Kasepuhan Urug, rombongan disambut oleh Abah Ukat. Di sana berlangsung prosesi spiritual di mana Incu Putu memohon izin dan dukungan batin untuk melanjutkan perjalanan.
Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi Fraksi PKB, Bayu Permana mengikuti Laku Estu Patanjala.
Agenda kemudian berlanjut ke wilayah Baduy. Rombongan bersilaturahmi dengan empat baris kolot atau pemimpin adat di Kampung Cikopeng (Baduy Luar) serta Kampung Cibeo, Cikeusik, dan Cikertawana (Baduy Dalam). Meski saat itu terdapat larangan kunjungan ke Gunung Liman, para pemangku adat tetap memberikan restu secara prinsipil.
“Para ketua adat menyampaikan bahwa gunung-gunung di kawasan Halimun Salak memiliki fungsi menjaga keseimbangan dunia. Manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat adat, tetapi oleh seluruh dunia,” tutur Bayu.
Menariknya, ekspedisi ini tidak berhenti pada dimensi spiritual dan ekologis. Ia juga membuka ruang dialog antara tradisi dan kebijakan publik. Hal ini terlihat dalam pertemuan di Kampung Adat Pasir Eurih, di mana rombongan berdiskusi intensif selama dua hari dengan tokoh adat atau Incu Putu sekaligus anggota DPRD Kabupaten Lebak tiga periode dan Ketua Majelis Permusyawaratan Masyarakat Kasepuhan (MPMK), Junaedi.
Baca Juga: Patanjala dan Jasling, DPRD Sukabumi Bayu Permana Soal Lingkungan Pasca Bencana
Diskusi itu menghasilkan kesepakatan penting: metode Patanjala sebagai sistem pengetahuan leluhur harus diinternalisasi ke seluruh kasepuhan, khususnya di Kabupaten Lebak yang telah memiliki Perda tentang Perlindungan dan Pengakuan Hukum Masyarakat Adat.
Bayu menempatkan hal ini sebagai bagian dari visi kebijakan yang lebih luas. Ia merupakan penggagas Perda Nomor 10 Tahun 2025 tentang Pelestarian Pengetahuan Tradisional dalam Perlindungan Kawasan Sumber Air di Kabupaten Sukabumi, yang dikenal sebagai Perda Patanjala.
“Perda Patanjala dirancang sebagai instrumen korektif terhadap model pembangunan yang selama ini cenderung membiarkan ekspansi tanpa penyangga ekologis yang memadai,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Perda tersebut melengkapi pendekatan hukum adat yang telah ada. “Kasepuhan adalah entitas masyarakat berbasis tradisi, sedangkan Patanjala adalah sistem pengetahuan berbasis tradisi. Ketika keduanya disinergikan, kita memiliki fondasi kuat untuk menjaga kawasan hutan dan sumber air dalam skala DAS, terutama Gunung Liman dan Lebak Cawene.”
Dari Lokal ke Global
Lebih dari sekadar ekspedisi, Laku Estu Patanjala menjadi refleksi bahwa kearifan lokal memiliki relevansi global. Di tengah krisis iklim dan degradasi lingkungan yang kian nyata, pendekatan berbasis tradisi justru menawarkan perspektif yang holistik—menghubungkan manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual dalam satu kesatuan.
Langkah yang dimulai dari barat Pulau Jawa ini mungkin tampak sederhana. Namun di dalamnya tersimpan gagasan besar: bahwa menjaga satu bagian bumi berarti menjaga keseluruhan. “Yang kita lakukan ini bukan hanya untuk masyarakat adat atau Pulau Jawa. Ini tentang menjaga keseimbangan dunia,” kata Bayu.
Dalam sunyi perjalanan dan ritual yang dijalankan, ekspedisi ini menjadi pengingat bahwa masa depan tidak selalu harus dicari ke depan—kadang, ia justru tersimpan dalam jejak-jejak leluhur yang menunggu untuk kembali dipahami. (ADV)
Editor : Denis Febrian