SUKABUMIUPDATE.com - Terik sinar matahari siang itu menyengat kulit. Panas cuaca tak menyurutkan semangat Iis (47 tahun), seorang petani asal Kampung Cibancet, Dusun Cijolang, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, untuk bangkit pasca bencana banjir yang menghancurkan lahan hidupnya selama ini.
Dengan alat seadanya, ia kembali menata lahan sawahnya yang porak-poranda akibat banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut pada 28 Desember 2025 lalu, sekitar pukul 16.00 WIB.
Sawah yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya kini tertimbun lumpur, pasir, bebatuan, hingga potongan kayu besar. Jejak bencana masih jelas terlihat, menyisakan luka mendalam bagi para petani di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Cicadas.
Baca Juga: Bangun Lantai 2 Gedung PCNU Kota Sukabumi, Janji Ayep Zaki di Harlah ke-100 Nahdlatul Ulama
“Waktu kejadian itu, padi di sini sudah mulai berbuah,” tutur Iis kepada Sukabumiupdate.com, Minggu (1/2/2026), sambil menunjuk hamparan sawah yang kini berubah wajah.
Ia mengelola lahan seluas 20 are atau sekitar 2.000 meter persegi. Namun dampak banjir tak hanya dirasakannya sendiri. Total sekitar 10 hektare sawah di kawasan tersebut dipastikan gagal panen.
Banjir dan longsor tersebut berdampak pada sejumlah kampung, di antaranya Kampung Garehong RT 01/01 Dusun Kadupugur, Kampung Cibancet RT 01/04 Dusun Cijolang, Kampung Pasirkopo RT 04/06 Dusun Wangunreja, Kampung Sukamekar RT 02/08 Dusun Cipeueut, Kampung Cipeueut RT 01/08 Dusun Cipeueut, serta Kampung Sirnagalih RT 01/10 Dusun Ciurug.
Baca Juga: Luka-luka, Penuturan 4 Pemuda Korban Pembacokan di Ongkrak Cibadak Sukabumi
Menurut Iis, sawah di wilayahnya biasanya bisa ditanami hingga tiga kali dalam setahun. Banjir kemarin terjadi tepat saat musim tanam perdana. Harapan panen yang semula menjanjikan pun sirna seketika.
“Biasanya panen bisa dapat satu ton. Sekarang mah tidak ada hasil sama sekali, sawahnya tertimbun material longsor,” ujarnya lirih.
Hingga kini, para petani masih berjuang membersihkan lahan secara manual. Bebatuan besar di congkel satu per satu dengan tenaga sendiri. Keterbatasan biaya membuat mereka tak mampu menyewa tenaga tambahan atau alat berat.
Baca Juga: Arah Pembangunan Kabupaten Sukabumi 2027, Leni Liawati: Jaminan Kesehatan, Jalan Rusak hingga Sampah
“Kalau nyuruh orang kan harus ada biaya lagi. Jadi kami kerjakan sendiri, sedikit demi sedikit,” katanya.
Ketidakpastian pun menghantui. Iis dan petani lainnya belum tahu sampai kapan sawah-sawah tersebut bisa kembali ditanami. Padahal, hasil panen bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga menjadi sumber penghasilan utama untuk kebutuhan hidup lainnya.
“Tentu harapannya ada uluran tangan dari pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi,” ucap Iis penuh harap. “Sawah-sawah ini adalah harapan kami.”
Di tengah keterbatasan dan kerusakan yang ditinggalkan bencana, semangat para petani Wangunreja tetap menyala. Di bawah terik matahari, mereka terus bekerja, menggenggam harapan agar lahan yang rusak dapat kembali menjadi sumber kehidupan.
Editor : Fitriansyah