SUKABUMIUPDATE.com – Pihak SMAN 1 Cicurug mengaku kaget sekaligus prihatin setelah menerima kabar salah satu alumninya, Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras di Jakarta.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Cicurug, Nurjaka, mengatakan pihak sekolah awalnya tidak langsung percaya dengan kabar tersebut.
“Kaget, awalnya tidak percaya. Tapi setelah banyak muncul di YouTube, baru yakin itu benar,” kata Nurjaka kepada sukabumiupdate.com, Rabu (18/3/2026).
Ia menyebut, pihak sekolah langsung menyampaikan rasa duka dan keprihatinan kepada korban melalui pesan WhatsApp. Namun, pesan tersebut belum mendapatkan balasan.
“Langsung turut berduka cita lewat WhatsApp ke Andrie, tapi belum dibalas,” ujarnya.
Baca Juga: Nasib Buruh Sukabumi: Dipaksa Beli Kue Lebaran Rp700 Ribu Atau Putus Kontrak Kerja
Menurutnya, setelah Hari Raya nanti pihak sekolah berencana menjenguk Andrie di rumah sakit tempat ia dirawat.
Nurjaka mengenang, Andrie merupakan sosok siswa yang dikenal kritis namun tetap santun selama bersekolah. Ia mengajar Andrie saat kelas 1 hingga kelas 2, sebelum Andrie melanjutkan ke jurusan IPA di kelas 3.
“Dia orangnya kritis, tapi santun. Pertanyaannya bagus, logikanya jalan, dan pilihan katanya sopan,” ucapnya.
Ia juga membenarkan bahwa Andrie merupakan lulusan tahun 2016 dan pernah menjabat sebagai Ketua OSIS pada 2015 saat duduk di kelas 2.
Terkait kiprah di organisasi, Nurjaka menilai Andrie memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
“Komunikasinya bagus, kalau bicara santun, pilihan katanya juga baik,” katanya.
Meski demikian, ia mengaku tidak menyangka Andrie akan menjadi seorang aktivis. Namun, sejak sekolah sudah terlihat cara berpikirnya yang logis, terutama saat mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis di kelas.
“Pertanyaannya pakai logika. Misalnya soal kesejahteraan, kenapa ada kapitalis dan sosialis. Itu pertanyaan-pertanyaan yang unik,” tuturnya.
Baca Juga: BPRS HIK Parahyangan Lepas Tanggung Jawab Soal Jual Beli Lahan Seluas 5 H di Cianjur
Setelah lulus, komunikasi antara Andrie dan pihak sekolah masih terjalin. Nurjaka menyebut Andrie beberapa kali mengirimkan buku dan berdiskusi, meski tidak intens karena kesibukan.
Terkait peristiwa yang menimpa alumninya, Nurjaka menilai tindakan tersebut sebagai bentuk kekerasan yang tidak dapat dibenarkan.
“Kalau berbeda pendapat tidak harus dengan kekerasan. Harus dengan logika. Itu yang kami ajarkan di sekolah,” tegasnya.
Ia menambahkan, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dan tidak seharusnya berujung pada permusuhan. Ia bahkan mencontohkan sesama alumni yang memiliki pandangan berbeda tetap bisa menjalin hubungan baik.
Kepada aparat penegak hukum, pihak sekolah berharap kasus ini dapat diusut secara tuntas. Sementara itu, kepada para siswa, sekolah berpesan agar tidak terpengaruh oleh tindakan kekerasan dan tetap mengedepankan cara-cara yang baik dalam menyampaikan pendapat.
“Harus berani berpendapat, tapi jangan destruktif,” ujarnya.
Di akhir, Nurjaka berharap Andrie ke depan lebih berhati-hati dalam menjalankan aktivitasnya.
Baca Juga: Begal Pasir Angin Bojonggenteng Sukabumi Kembali Beraksi, Warga: Korbannya Pemudik
“Harapannya lebih waspada. Karena risikonya memang ada, apalagi kalau aktivitasnya berkaitan dengan isu-isu sensitif,” pungkasnya.
Sekedar informasi, Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI telah menahan empat prajurit yang diduga terlibat dalam aksi penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus.
Keempat terduga pelaku tersebut diamankan dan kini menjalani penahanan di Polisi Militer Komando Daerah Militer (Pomdam) Jaya sejak Rabu pagi, 18 Maret 2026.
Penahanan ini dilakukan sebagai bagian dari proses penyelidikan yang tengah berjalan untuk mengungkap secara jelas kronologi serta motif di balik peristiwa tersebut.
"Tadi pagi saya telah menerima orang yang diduga tersangka melakukan kegiatan penganiayaan terhadap saudara Andrie Yunus," kata Komandan Puspom TNI Mayor Jenderal TNI Yusri Nuryanto dalam jumpa pers di Mabes TNI, Jakarta, Rabu siang, 18 Maret 2026, dikutip via Tempo.co.
Editor : Asep Awaludin