SUKABUMIUPDATE.com - Siapa sangka, kebiasaan membaca komik dan hobi menulis cerita digital di platform Wattpad sejak bangku SMP mampu mengantarkan seorang gadis remaja menjadi salah satu novelis best seller tanah air. Karyanya bahkan sukses menembus industri perfilman layar lebar nasional.
Itulah sepenggal perjalanan hidup Wulan Fadila Fatia, atau yang lebih akrab dikenal dengan nama pena Wulanfadi (26). Penulis muda kelahiran Jakarta 15 Agustus 1999 ini sukses membuktikan bahwa konsistensi dan ketekunan mampu mengubah imajinasi menjadi karya yang bernilai tinggi.
Tiga novel fiksi remajanya yang sangat populer, yakni A: Aku, Benci, dan Cinta, R: Raja, Ratu, dan Rahasia, serta Matt and Mou, telah sukses diadaptasi menjadi film layar lebar oleh rumah produksi papan atas Indonesia.
Lahir dari Ruang Baca Alternatif Digital
Minat Wulan pada dunia literasi tumbuh sejak ia duduk di kelas 3 SD berkat keberadaan perpustakaan komplek di dekat rumahnya. Komik Doraemon dan novel Harry Potter menjadi gerbang awal yang membuka ruang imajinasinya.
Menginjak bangku SMP, keterbatasan akses terhadap buku bacaan fisik fisik membawanya menjelajahi ruang digital hingga menemukan aplikasi Wattpad. Di wadah inilah, Wulan mulai nekat merangkai ceritanya sendiri sejak kelas 2 SMP. Pengalaman berproses pada platform itu meninggalkan kesan mendalam baginya.
“Komentarnya itu sedikit, tetapi aku tetap melanjutkan menulis dan merasa ternyata harus punya ikhtiar yang lebih kuat lagi,” kenang Wulan kepada sukabumiupdate.com usai menjadi narasumber dalam acara bedah buku di Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), Sabtu (23/5/2026).
Baca Juga: Hadirkan Penulis Wulanfadi, HIMA PBSI UMMI Sukabumi Bedah Novel A: Aku, Benci & Cinta
Konsistensi itu berbuah manis. Wulan mengaku sempat terkejut luar biasa ketika salah satu penerbit mayor dan produser film melirik karyanya untuk diangkat ke bioskop.
“Waktu itu kaget sampai lemas kaki, aku sampe bingung tapi waktu itu bahagia dan senang banget karena enggak kerasa bisa sampe difilmkan,” ujarnya.
Gaya Bercerita yang Relatable dan Disiplin Menulis
Wulanfadi dikenal memiliki gaya kepenulisan yang ringan, mengalir, dan mudah dipahami, menjadikannya sangat digemari oleh pembaca remaja maupun pembaca pemula. Dalam proses kreatifnya, ia terinspirasi oleh Orizuka, penulis novel terkenal The Chronicles of Audy.
Menurut Wulan, kisah-kisah yang ia tulis banyak lahir dari pengalaman pribadi yang langka namun bermakna. Melalui cerita tersebut, ia ingin memotivasi para pembacanya agar terus berusaha menjadi versi terbaik dari diri mereka masing-masing.
Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dalam berkarya. Menurutnya, menulis atau menekuni bidang yang disukai membutuhkan ketekunan karena hasil tidak selalu terlihat secara instan.
“Usaha itu seperti biji tanaman, butuh waktu untuk menjadi buah,” tuturnya.
Baca Juga: Sinopsis Film A: Aku, Benci & Cinta, Kisah Rumit Persahabatan dan Cinta Remaja
Perempuan yang kini berdomisili di Bogor itu mengaku menerapkan manajemen waktu yang ketat serta membagi tugas domestik bersama sang suami. Ia berkomitmen meluangkan waktu sekitar 50 hingga 60 menit setiap hari khusus untuk menulis dan membaca.
Menurut Wulan, frekuensi jauh lebih penting dibanding durasi panjang namun tidak konsisten. Ia juga menerapkan sistem delegasi untuk pekerjaan rumah tangga yang dapat dilakukan orang lain agar bisa lebih fokus pada hal-hal yang memang membutuhkan perannya, seperti menulis dan berolahraga.
“Kadang suami menawarkan mau masak atau beli makanan, bahkan sesekali dia yang memasak. Jadi tugas yang bisa didelegasikan saya serahkan, supaya saya bisa fokus ke hal yang hanya bisa saya lakukan,” ujarnya.
Dalam proses kreatif menulis, Wulan lebih memilih membuat kerangka besar cerita, mulai dari pembukaan, konflik, hingga akhir cerita. Sementara detail-detailnya dikembangkan secara spontan selama proses penulisan berlangsung.
Menurutnya, cara tersebut mampu menjaga unsur kejutan dalam cerita sekaligus membuat alur tetap terasa segar bagi pembaca.
Sastra sebagai Medium Pemberdayaan Perempuan
Ke depan, Wulan memiliki visi akademis dan sosial yang besar. Usai merampungkan studi magisternya, ia bertekad mengolah hasil penelitiannya menjadi karya-karya sastra yang berfokus pada isu pemberdayaan perempuan (women empowerment).
Melalui tulisan, ia ingin menyuarakan agar kaum perempuan, termasuk mereka yang telah menikah, untuk tetap mandiri, berani berkarya, berdiri di kaki sendiri, serta menyadari bahwa nilai diri mereka setara.
Menutup perbincangannya, Wulan memberikan apresiasi tinggi terhadap antusiasme literasi generasi muda di daerah, termasuk di Sukabumi, yang menurutnya jauh lebih hangat dan membara dibandingkan kota-kota besar.
"Antusiasme pembaca di Sukabumi sangat luar biasa. Meskipun banyak yang memulai dari bacaan fiksi ringan, ini adalah fondasi dan langkah awal yang sangat baik untuk membangun budaya literasi yang lebih mendalam ke depannya," pungkas Wulan.
Kontributor: Annisa Nurizkiawan, Mahasiswa Magang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Sukabumi
Editor : Denis Febrian