SUKABUMIUPDATE.com - Nama Philip Frederik Laurens Sigar sempat menjadi perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto menyempatkan diri berziarah ke makamnya di kompleks pemakaman Oud Eik en Duinen di Den Haag, Belanda, di sela kunjungan kenegaraan.
Momen yang dibagikan melalui akun Instagram pribadinya itu memicu rasa penasaran tentang sosok leluhur presiden yang selama ini jarang disorot.
Di balik ziarah tersebut, tersimpan jejak keluarga yang berkaitan dengan pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Laurens Sigar bukan sekadar kakek dari pihak ibu Prabowo, melainkan tokoh Minahasa yang pernah menduduki jabatan penting dalam birokrasi kolonial pada awal abad 20.
Mengutip keterangan katadata.co.id, Prabowo berziarah ke makam Philip Frederik Laurens Sigar pada September 2025. Saat itu, ia menghadiri rangkaian Sidang Umum PBB ke-80 di New York, lalu kunjungan bilateral ke Belanda. Prabowo diterima di Istana Huis ten Bosch, Den Haag, oleh Raja Willem-Alexander dan Ratu Máxima.
Baca Juga: Kecam Pernyataan "Londo Ireng" Prabowo, YLBHI Nilai Ancam Kebebasan Pers dan Demokrasi
Lalu Siapa Laurens Sigar?
Philip Frederik Laurens Sigar lahir pada akhir abad ke-19 di Minahasa, Sulawesi Utara, yang saat itu itu masih berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Ia berasal dari keluarga Minahasa yang memiliki kedekatan dengan pejabat kolonial Belanda.
Philip Frederik Laurens Sigar merupakan ayah dari ibu Prabowo, Dora Marie Sigar. Dora Marie Sigar adalah istri dari Soemitro Djojohadikoesoemo, yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara Riset Indonesia ke-3 sekaligus Menteri Keuangan Indonesia ke-8. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai empat anak: Biantiningsih Miderawati Djiwandono, Marjani Ekowati le Maistre, Prabowo Subianto, dan Hashim Djojohadikusumo.
Karier Philip Frederik Laurens Sigar berkembang di bidang administrasi kolonial. Ia sempat menjabat anggota Gemeenteraad (Dewan Kota) Manado pada 1920–1922, lalu diangkat menjadi Gewestelijk Secretaris (Sekretaris Residen) Manado pada 1922–1924. Posisi ini menegaskan peran strategisnya dalam birokrasi kolonial, khususnya terkait menangani urusan administratif di wilayah Manado.
Keluarga Sigar juga dikenal dengan latar belakang militernya. Kakek buyut Prabowo, Benjamin Thomas Sigar, pernah menjabat sebagai kapitein atau memimpin Pasukan Tulungan. Benjamin Sigar tergabung dalam pasukan yang direkrut pemerintah Hindia Belanda untuk mendukung operasi militer, termasuk Perang Jawa (1825–1830) yang berakhir dengan penangkapan Pangeran Diponegoro. Ia juga dianugerahi penghargaan Militaire Willems-Orde kelas 4 oleh Kerajaan Belanda atas jasanya.
Dengan latar belakang nasional tersebut, Philip Frederik Laurens Sigar dikenal sebagai tokoh yang mewarisi tradisi kesetiaan terhadap pemerintah kolonial Belanda, meskipun gerakanisme Indonesia mulai muncul dan berkembang pada masa itu.
Editor : Oksa Bachtiar Camsyah