SUKABUMIUPDATE.com - Prestasi membanggakan diraih oleh Nayla Yuliandri (21), perempuan asal Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi. Ia sukses memboyong piala juara pertama dalam ajang Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional Piala H.B. Jassin 2026.
Nayla berhasil menyingkirkan sekitar 3.700 peserta dari berbagai pelosok Nusantara hingga menembus posisi 10 finalis terbaik sebelum akhirnya dinobatkan sebagai pemenang utama.
Perlombaan nasional ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Sastra H.B. Jassin 2026 yang diinisiasi oleh Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta bersama Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin.
Ia mengaku mendapatkan adanya Kompetisi ini berawal dari obrolan di kalangan sastrawan, seniman, dan penyair Indonesia. Informasi lomba tersebut juga ternyata ramai di media sosial, hal itulah yang membuat Nayla memutuskan untuk mengikutinya.
"Saya mengetahui lomba ini karena sudah menjadi perbincangan umum di kalangan sastrawan, seniman, dan penyair Indonesia. Begitupun di media sosial, sudah menjadi indikator utama dalam ajang perlombaan yang sering kali FYP di media sosial," kata Nayla saat dikonfirmasi, Senin pagi (19/10/2026).
Baca Juga: 100 Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo Resmi Mengaspal di Palabuhanratu Sukabumi
Keikutsertaannya kali ini menjadi pengalaman pertama mengikuti lomba baca puisi tingkat nasional tersebut. Meski demikian, ia tertarik mencoba karena menganggap kompetisi itu sebagai kesempatan untuk mengasah kemampuan sekaligus menguji keberanian.
"Tentunya, ajang ini sangat bergengsi. Selain untuk mengasah kemampuan, perlu adanya keberanian untuk mengikuti perlombaan ini karena diikuti dominan para ahli sastra, seni, dan penyair di Indonesia," ujarnya.
Berlatih Pagi dan Malam, Persiapan Hanya Dua Pekan dengan bimbingan oleh bapak Mazeinda Al-biruni
Perjalanan Nayla menuju podium juara tidak terlepas dari persiapan intensif. Ia menjelaskan, kompetisi berlangsung melalui dua tahapan, yakni seleksi awal melalui video pembacaan puisi dan babak final yang mempertemukan 10 peserta terbaik di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.
Pada tahap awal, peserta mengirimkan video pembacaan puisi dan melakukan registrasi melalui aplikasi yang disediakan penyelenggara. Dari sekitar 3.700 peserta, panitia kemudian memilih 10 finalis yang mewakili daerah masing-masing.
Baca Juga: Dukung Akses Air Bersih, PLN Indonesia Power UBP JPR Bantu Sumur Bor di TMMD ke-130 Sukabumi
Nayla mengatakan, proses seleksi berlangsung cukup ketat. Berdasarkan informasi yang diketahuinya, dewan juri membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk menentukan 10 peserta yang berhak melaju ke babak final.
"Yang daftar 3.700. Bahkan juri pun mengakui kewalahan saat menyeleksi. Sebulan mereka menyeleksi untuk mendapatkan 10 finalis terbaik," ungkapnya.
Setelah dinyatakan lolos ke babak final, Nayla harus mempersiapkan diri untuk membawakan puisi pilihan dan puisi wajib yang ditentukan panitia. Waktu persiapan yang terbatas membuatnya harus memaksimalkan setiap kesempatan untuk berlatih.
"Wah, tentunya proses yang saya lalui tak mudah. Hampir setiap hari pagi dan malam saya berlatih secara intensif, mempelajari puisi yang saya bawakan karena menuju hari H sekitar dua mingguan," tuturnya.
Ia juga mengungkapkan, puisi wajib baru diberikan beberapa hari sebelum pelaksanaan final. Kondisi tersebut membuatnya harus membagi waktu secara efektif untuk memahami dan menghayati karya yang akan dibawakan.
Baca Juga: Bacaan Doa Tahiyat atau Tasyahud Akhir Lengkap dengan Shalawat Ibrahimiyah dan Doa Perlindungan
"Sedangkan diberi puisi wajib oleh panitia hanya beberapa hari. Jadi saya menggunakan waktu sebaik-baiknya," tambah Nayla.
Bersaing dengan Juara Tahun Sebelumnya
Tantangan lain yang dihadapi Nayla adalah persaingan dengan peserta yang sudah memiliki pengalaman mengikuti kompetisi tersebut pada tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, sejumlah finalis yang berhasil melaju ke babak akhir merupakan peserta yang pernah masuk 10 besar, termasuk para pemenang pada edisi sebelumnya.
"Yang lebih menarik lagi adalah saingan saya merupakan para finalis yang tahun sebelumnya mengikuti. Yang juara 1 tahun 2024, juara tahun 2025, dan finalis 10 besar yang sudah pernah lolos di tahun sebelumnya," kata Nayla.
Ia memperkirakan hanya sekitar tiga orang dari 10 finalis yang tergolong peserta baru yang belum pernah lolos ke babak final pada tahun-tahun sebelumnya. Nayla menjadi salah satu peserta baru tersebut.
"Kalau tidak salah, orang baru yang lolos finalis itu hanya bertiga dan salah satunya adalah saya," ungkapnya.
Baca Juga: Jadwal Super League 2026/2027 Pekan Keenam: Persija vs Arema, Madura United vs Persib
Bawakan Puisi tentang Perjuangan Perawat Palestina
Dalam seleksi awal, Nayla memilih membawakan puisi berjudul Razan karya Helvy Tiana Rosa. Puisi tersebut mengangkat kisah seorang perawat Palestina yang meninggal dunia setelah ditembak ketika berupaya menolong warga Palestina pada 2018.
Bagi Nayla, puisi tersebut memiliki kedekatan personal sehingga memudahkannya memahami dan mendalami pesan yang terkandung di dalamnya.
"Saya tahap pertama membawakan puisi Razan karya Helvy Tiana Rosa. Karya itu menceritakan bagaimana seorang tokoh perawat Palestina yang meninggal tertembak oleh Zionis Israel saat menyelamatkan warga Palestina. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2018," jelasnya.
Ia menilai kedekatannya dengan kisah dalam puisi tersebut menjadi alasan penting dalam menentukan pilihan karya yang dibawakan pada tahap seleksi.
"Puisi ini saya pilih karena saya merasa dekat dengan diri saya sehingga mudah untuk saya mendalaminya," ujar Nayla.
Sementara itu, pada babak final, seluruh peserta diwajibkan membawakan puisi pilihan sekaligus puisi wajib yang telah ditentukan oleh panitia.
Keberhasilan Nayla meraih juara pertama dalam pengalaman pertamanya mengikuti kompetisi tersebut menjadi pencapaian tersendiri bagi perempuan asal Cikembar, Kabupaten Sukabumi. Ia mampu menembus persaingan ribuan peserta dan bersaing dengan para finalis berpengalaman di panggung sastra nasional.
Editor : Ikbal Juliansyah