SUKABUMIUPDATE.com - Selatan Bandung memang selalu jadi destinasi wisata favorit saat musim liburan tiba. Tak hanya keindahan alamnya, Bandung bagian selatan juga punya kuliner khas dan jadi daya tarik lain para wisatawan, salah satunya adalah ‘Berondong Ketan Ibun’. Makanan ini punya citarasa manis dan biasanya dijadikan camilan saat santai sambil menikmati kopi atau teh.
Jika berkunjung ke daerah selatan Bandung seperti Ciwidey, Pangalengan, Banjaran atau Ranca Bali, biasanya Berondong ketan Ibun ini banyak dijajakan di kios-kios pinggir jalan dengan kemasan sederhana dan harga yang sangat terjangkau.
Baca Juga: Bukan Cuma Seblak, Ini Deretan Makanan Khas Sunda yang Pas Dimakan Saat Hujan
Mengenal Berondong Ketan Ibun
Berondong Ketan
Menurut laman disparbudjabar, Berondong Ketan ini sudah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Jawa Barat. Awalnya, makanan ini dibuat saat musim panen atau acara syukuran hasil bumi, dimana proses pembuatannya dilakukan bersama-sama sebagai ajang merekatkan kebersamaan antar warga dan tradisi gotong royong.
Sementara secara filosofis, rasa manisnya menggambarkan rezeki yang melimpah serta kebahagiaan dalam menjalani kehidupan. Awalnya ide membuat kuliner ini muncul karena warga di zaman dahulu belum memiliki teknologi untuk menyimpan hasil panen agar tahan lama.
Maka para ibu di kampung mencari cara agar ketan bisa tetap awet, mudah dibawa, dan tetap lezat. Dari dapur-dapur sederhana itulah lahir ide menyangrai ketan hingga meletup-letup seperti popcorn yang kita kenal pada saat ini.
Baca Juga: Resep Membuat Opak, Kerupuk Sukabumi yang Cocok Jadi Cemilan
Tak berhenti di situ, mereka menambahkan gula aren cair agar rasanya menjadi lebih manis. Mulai dari sana, Borondong Ketan Ibun disukai banyak kalangan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Beberapa keluarga di Ibun masih mempertahankan resep turun-temurun, menjaga cita rasa otentik dengan bahan alami tanpa pengawet.
Itulah sekilas tentang Berondong Ketan Ibun yang jadi salah satu makanan khas Jawa Barat dan sebagai warisan budaya masyarakat Sunda.
Editor : Dede Imran