SUKABUMIUPDATE.com – Camilan tradisional khas wilayah Pajampangan, Kabupaten Sukabumi, yakni galendo atau yang kerap disebut warga setempat sebagai “galeno”, kini mulai langka keberadaannya. Padahal, makanan berbahan dasar kelapa ini dulunya cukup mudah dijumpai di dapur-dapur warga.
Wawas (58 tahun), warga Kecamatan Ciracap, menuturkan bahwa galendo merupakan hasil olahan dari ampas kelapa sisa pembuatan minyak kelapa tradisional. Namun, seiring berkurangnya masyarakat yang memproduksi minyak kelapa secara tradisional, galendo pun ikut menghilang dari peredaran.
“Sekarang sudah jarang yang bikin minyak kelapa tradisional, paling kalau ada pesanan saja. Jadi galendo juga ikut jarang ada,” ujar Wawas kepada Sukabumiupdate.com, Kamis (9/4/2026).
Baca Juga: Setahun Terputus, Jembatan Sukabumi-Cianjur Sungai Cibuni Kembali Hidupkan Asa Asmara Warga
Ia menjelaskan, dalam bahasa Sunda, proses pembuatan minyak kelapa tradisional dikenal dengan istilah “ngeleutik”. Dari proses tersebut, dihasilkan ampas kelapa yang biasanya diolah kembali menjadi berbagai makanan, seperti dage atau galendo.
Perbedaan keduanya terletak pada proses pengolahan. Untuk dage, ampas kelapa dicuci hingga bersih dan tidak berasa, kemudian diolah dengan cara dipepes ditambah bumbu. Sementara galendo dibuat dengan cara memasak ampas kelapa selama beberapa jam hingga kering dan berubah warna menjadi cokelat.
“Galendo itu dari endapan santan kelapa tua yang dimasak lama sampai minyaknya terpisah. Prosesnya cukup panjang, mulai dari kelapa diparut, diperas santannya, lalu direbus sampai airnya habis dan tinggal minyak serta ampas berwarna coklat,” jelasnya.
Baca Juga: Tawuran Pelajar di Jembatan Pamuruyan, Polisi Minta Warga Lapor dan Bubarkan!
Setelah itu, ampas tersebut disaring dan dipres untuk memisahkan sisa minyak sekaligus memadatkan galendo. Proses pengolahan ini memakan waktu cukup lama, tergantung dari jumlah kelapa yang digunakan, serta menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu.
Dari segi rasa, galendo memiliki cita rasa gurih dengan sedikit manis alami dari kelapa. Camilan ini biasanya dinikmati bersama teh hangat, menjadikannya teman santai yang sederhana namun khas.
“Rasanya gurih, ada manisnya. Paling enak dimakan sama teh panas,” tambah Wawas.
Meski memiliki rasa yang khas dan proses yang unik, keberadaan galendo kini semakin tergerus oleh perubahan zaman. Minimnya produksi minyak kelapa tradisional menjadi salah satu faktor utama yang membuat camilan ini kian sulit ditemukan.
Editor : Ikbal Juliansyah