SUKABUMIUPDATE.com — Di sepanjang jalur selatan Kabupaten Sukabumi, tepatnya di wilayah Pajampangan, aroma sate yang dibakar di atas bara kerap menggoda para pengendara yang melintas. Papan-papan sederhana bertuliskan “Sate Kambing” berjajar di depan warung makan, seolah menjadi penanda kuliner khas yang sulit dilewatkan.
Namun di balik kepulan asap dan gurihnya daging bakar, tersimpan fenomena yang cukup mengejutkan. Meski terpampang jelas sebagai sate kambing, banyak pedagang justru menggunakan daging domba sebagai bahan utama sajian mereka.
Sate kambing selama ini dikenal sebagai salah satu kuliner populer di Indonesia. Potongan daging yang ditusuk, dibakar, lalu disajikan dengan bumbu khas menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi para pelintas jalur wisata maupun penghubung antarwilayah. Tak heran, menu ini hampir selalu tersedia di warung nasi hingga rumah makan di sepanjang ruas Sukabumi–Sagaranten hingga Jampangtengah–Kiaradua.
Baca Juga: Tak Hanya Jambu, 5 Buah Ini Membantu Menaikkan Trombosit dan Melawan DBD
Akan tetapi, praktik di lapangan menunjukkan adanya perbedaan antara nama menu dan bahan yang digunakan. Hampir seluruh warung tetap mencantumkan “Sate Kambing”, meski daging yang diolah lebih banyak berasal dari domba.
Fenomena ini baru benar-benar disadari sebagian pelanggan setelah beberapa kali singgah. Salah satunya Opik (35), pengendara yang kerap melintasi jalur tersebut.
“Kalau mampir ke rumah makan di jalan itu, saya sering pesan sate kambing. Bahkan sering ditawari duluan sama pemilik warung, mau sate ayam atau kambing. Padahal ternyata daging kambingnya tidak ada, yang ada daging domba,” ujarnya kepada Sukabumiupdate.com, Jumat (17/4/2026).
Meski demikian, Opik mengaku tidak merasa dirugikan. Baginya, perbedaan bahan tersebut tidak mengurangi kenikmatan rasa.
“Baru sadar saja, tapi bukan berarti ketipu. Soalnya daging domba juga enak dan lezat,” tambahnya.
Baca Juga: Kronologi Dugaan Penipuan Jual Beli Lahan di Cibadak, Korban Minta Aktivitas SPPG Dihentikan
Hal serupa diungkapkan Roni (50), yang sering melintas dari Jampangtengah menuju Surade. Ia menyebut praktik ini bukan hal baru di sepanjang jalur tersebut.
“Setiap warung sate pasti ada tulisan sate kambing, ternyata yang disate itu daging domba. Ya baru sadar saja, padahal kambing sama domba itu sangat beda,” katanya.
Di balik perbedaan tersebut, ada karakteristik daging yang turut membedakan pengalaman menyantapnya. Daging kambing umumnya memiliki serat yang lebih padat dan tekstur sedikit lebih kenyal, dengan cita rasa yang cenderung lebih ringan. Sementara itu, daging domba dikenal lebih empuk dengan kandungan lemak yang lebih tinggi, sehingga menghasilkan rasa yang lebih gurih dan aroma yang lebih kuat saat dibakar.
Perbedaan ini kerap tidak terlalu disadari oleh konsumen awam, terlebih setelah daging diolah menjadi sate dengan bumbu dan proses pembakaran yang serupa. Hal inilah yang membuat banyak pembeli tetap menikmati sajian tanpa menyadari perbedaan bahan dasarnya.
Baca Juga: Inilah Sosok Diduga Pelaku Penipuan Modus Jumat Berkah di Masjid Al Arfaj Cibadak
Di kalangan masyarakat, perbedaan antara kambing dan domba memang kerap dianggap samar. Padahal, keduanya memiliki ciri fisik dan karakteristik daging yang berbeda. Namun, kebiasaan menyebut “sate kambing” seolah sudah menjadi istilah umum yang melekat sejak lama.
Warga menduga, penggunaan daging domba lebih dipilih karena ketersediaannya yang lebih mudah serta harga yang relatif lebih terjangkau dibandingkan kambing. Di sisi lain, nama “sate kambing” telanjur populer dan lebih dikenal oleh konsumen, sehingga tetap digunakan oleh para pedagang.
Fenomena ini menjadi potret menarik tentang bagaimana tradisi, kebiasaan, dan pertimbangan ekonomi berpadu dalam praktik kuliner sehari-hari. Di satu sisi, ada realitas bahan baku yang berbeda, namun di sisi lain, nama lama tetap bertahan sebagai identitas yang sudah terlanjur melekat di benak masyarakat.
Editor : Asep Awaludin