Sukabumi Update

Mengenal Nasi Kerabu: Kuliner Biru Pemersatu Melayu Serumpun di Malaysia dan Thailand Selatan

Nasi Kerabu. (Sumber Foto: Arts and Culture Information Gateway)

SUKABUMIUPDATE.com – Jika berbicara tentang kuliner khas Malaysia, Anda mungkin akan langsung teringat pada Nasi Lemak. Namun, ada satu lagi hidangan tradisional masyarakat Melayu yang tak kalah memikat, baik dari segi visual maupun cita rasa: Nasi Kerabu.

Terkenal dengan tampilan nasinya yang berwarna biru alami dari ekstrak bunga telang, Nasi Kerabu disajikan bersama aneka ulam (sayuran segar), siraman saus budu, serta lauk pauk tradisional.

Menariknya, Nasi Kerabu bukan sekadar milik Malaysia. Hidangan unik ini merupakan simbol dari warisan warisan kuliner Melayu serumpun yang melintasi batas negara, membentang dari wilayah Kelantan dan Terengganu di Malaysia, hingga ke kawasan Patani (meliputi Provinsi Pattani, Yala, dan Narathiwat) di Thailand Selatan.

Jejak 'Khao Yam' di Patani: Identitas Budaya yang Melintasi Batas Negara

Selama ini, Nasi Kerabu memang lebih lekat sebagai ikon kuliner Malaysia. Namun, berbagai literatur budaya menunjukkan bahwa makanan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Melayu Patani di Thailand Selatan.

Berdasarkan artikel ilmiah yang diterbitkan oleh Rusamilae Journal, masyarakat Muslim di Pattani kerap menyebut hidangan ini dengan nama "Nasi Gerabu" atau dalam bahasa Thailand disebut "Khao Yam".

Baca Juga: Resep Tom Yam Suki : Sajian Sup Thailand yang Pas untuk Cuaca Dingin

Laporan dari BenarNews juga mempertegas bahwa bagi masyarakat Thailand Selatan, Nasi Kerabu memiliki makna filosofis yang mendalam. Hidangan ini merepresentasikan keteguhan masyarakat Melayu Muslim setempat dalam mempertahankan tradisi dan identitas budaya mereka di tengah arus modernisasi.

Salah satu pengikat rasa yang paling autentik dari kedua wilayah ini adalah penggunaan Budu, yaitu saus fermentasi ikan khas Melayu yang memberikan cita rasa gurih yang pekat dan khas.

Resep Tradisional Nasi Kerabu Autentik

Tertarik mencicipi kelezatan kuliner lintas negara ini? Anda bisa mencoba membuatnya sendiri di rumah dengan panduan resep tradisional berikut:

Bahan-Bahan

Bahan nasi

• 500 gram beras
• Air rendaman bunga telang
• 1 lembar daun pandan
• Garam secukupnya

Ulam atau Sayuran

• Tauge
• Kacang panjang iris tipis
• Daun kesum
• Daun mint
• Kubis iris halus

Lauk Pendamping

• Ikan bakar atau ayam goreng
• Kelapa parut sangrai
• Kerupuk ikan

Saus Budu

• 3 sendok budu
• Cabai rawit
• Bawang merah
• Gula aren
• Air jeruk nipis

Baca Juga: Resep Som Tam Original Salad Pepaya Thailand Ala Chef Devina Hermawan

Langkah-Langkah Pembuatan:

  1. Memasak Nasi Biru: Saring air rendaman bunga telang hingga mendapatkan warna biru yang pekat. Gunakan air biru tersebut untuk memasak beras di dalam rice cooker bersama daun pandan dan sedikit garam. Masak hingga nasi tanak dan harum.
  2. Menyiapkan Ulam: Cuci bersih semua sayuran (kacang panjang, daun kesum, daun mint, dan kubis). Iris seluruh sayuran tersebut setipis mungkin, lalu sisihkan bersama tauge segar.
  3. Meracik Saus Budu: Campurkan saus budu dengan irisan bawang merah, cabai rawit ulek, dan gula aren. Beri sedikit air hangat, lalu kucuri dengan air jeruk nipis. Aduk rata hingga menghasilkan perpaduan rasa gurih, asam, manis, dan pedas.
  4. Prosesi Penyajian: Di atas piring besar, cetak nasi biru di bagian tengah. Tata ulam segar secara melingkar mengelilingi nasi. Letakkan ikan bakar, kelapa sangrai, dan kerupuk ikan di sisinya.

Cara Menikmati: Sebelum disantap, siramkan saus budu secukupnya di atas nasi. Sesuai tradisi masyarakat Melayu Patani, seluruh komponen nasi, ulam, dan lauk harus diaduk menjadi satu kesatuan agar menghasilkan ledakan rasa yang pas di setiap suapan.

Keberadaan Nasi Kerabu di Malaysia dan Thailand Selatan menunjukkan adanya hubungan budaya serumpun di kawasan Asia Tenggara. Kuliner tradisional ini tidak hanya mencerminkan kekayaan rasa masyarakat Melayu, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Penulis: Is-Ma-Ae Tahlohding, Mahasiswa Magang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Sukabumi

Editor : Denis Febrian

Tags :
BERITA TERKAIT