Sukabumi Update

Mengenal Mata Air Cigede Garut: Sejarah, Daya Tarik, dan Mitos yang Menyelimutinya

Mata Air Cigede adalah salah satu tempat berenang alami yang ada di Garut, Jawa Barat dan mehyimpan cerita-cerita unik (Sumber : Gmaps)

SUKABUMIUPDATE.com - Mata Air Cigede adalah mata air alami yang berada di Kampung Babakan Wetan, Desa Sukakarya, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Lokasinya sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Garut dan tidak terlalu jauh dari kawasan Situ Bagendit.

Tempat ini terkenal karena kejernihan airnya yang luar biasa sehingga dasar kolam yang dipenuhi bebatuan dapat terlihat jelas dari permukaan.

Di sini pengunjung bisa merasakan sensasi seperti berenang di kolam air mineral karena batu-batu di dasar kolam terlihat sangat jelas. Kejernihan ini juga membuat lokasi tersebut populer untuk foto bawah air (underwater).

Baca Juga: 15 Tempat Wisata Jabar yang Diabadikan dalam Lagu Sunda Termasuk Palabuhanratu Sukabumi

Salah satu keunikan lain Mata Air Cigede adalah tidak adanya tiket masuk resmi. Pengunjung biasanya hanya menitipkan kendaraan kepada warga sekitar jika diperlukan.

Suasana di sekitar Cigede juga masih sangat alami. Hamparan sawah, pepohonan, dan perkampungan tradisional membuat tempat ini cocok untuk mencari ketenangan jauh dari keramaian wisata komersial.

Sudah Dikunjungi Wisatawan Belanda Sejak 1908

Mengutip dari berbagai sumber, Mata Air Cigede konon telah dikenal sejak masa Hindia Belanda.

Dalam catatan perjalanan wisata tahun 1908, wisatawan Belanda yang menginap di kawasan Cipanas Garut disebut mencari lokasi-lokasi alam tersembunyi yang direkomendasikan penduduk setempat, termasuk kawasan Cigede.

Mitos Mata Air Cigede

Seperti banyak mata air tua yang ada di Jawa Barat yang tidak lepas dari mitos, Cigede juga memiliki cerita rakyat yang berkembang di masyarakat. Salah satu kisah yang cukup dikenal adalah legenda tentang sosok gaib yang disebut "Meong Belang".

Cerita ini diwariskan secara turun-temurun oleh warga sekitar dan menjadi bagian dari folklor lokal, meskipun tidak ada bukti yang dapat memverifikasi kisah tersebut.

Editor : Dede Imran

Tags :
BERITA TERKAIT