SUKABUMIUPDATE.com – Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi menilai tradisi Seren Taun ke-447 Kasepuhan Sinar Resmi di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, bukan sekadar ritual adat tahunan, melainkan sarana pendidikan karakter yang kaya akan nilai budaya, kearifan lokal, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Herdiawan Waryadi, usai menghadiri puncak perayaan Seren Taun ke-447 yang berlangsung khidmat pada Minggu 5 Juli 2026.
Herdiawan mengatakan, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Seren Taun perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman.
"Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini mengajarkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, semangat gotong royong, penghormatan terhadap alam, serta pentingnya menjaga ketahanan pangan melalui budaya menyimpan hasil panen di leuit," ujarnya, pada Rabu (8/7/2026).
Baca Juga: Usai Isi BBM, Honda Tiger Terbakar Hebat di Dekat SPBU Baros Sukabumi
Menurutnya, prosesi ngampih pare ka leuit atau mengarak padi menuju Leuit Si Jimat menjadi simbol bahwa masyarakat adat tidak sekadar memandang padi sebagai hasil pertanian, tetapi sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga dan dihormati.
"Prosesi Seren Taun yang ditandai dengan ngampih pare ka leuit menjadi simbol bahwa masyarakat adat tidak hanya memandang padi sebagai hasil pertanian, tetapi juga sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga dan dihormati," katanya.
Ia juga menilai filosofi tersebut selaras dengan upaya penguatan pendidikan karakter yang terus dikembangkan di lingkungan sekolah. Menurutnya, budaya lokal dapat menjadi media pembelajaran yang efektif untuk membentuk generasi yang berkarakter, mencintai lingkungan, serta menghargai identitas budaya daerah.
Puncak Seren Taun ke-447 Kasepuhan Sinar Resmi dihadiri ribuan masyarakat. Berbagai prosesi adat turut memeriahkan perayaan, mulai dari tumbuk padi, saresehan bersama baris olot kasepuhan, arak-arakan dongdang, pertunjukan dogdog lojor, rengkong, gondang buhun, seni debus, tari tani, hingga pameran karya incu putu Kasepuhan Sinar Resmi.
Baca Juga: Suguhkan Panorama Gunung, Dispar Sukabumi Kembangkan Desa Wisata Panenjoan Sampalan
Menurut Herdiawan, seluruh rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran yang memperkenalkan filosofi bertani, menjaga keseimbangan alam, serta mempertahankan jati diri masyarakat adat di tengah arus modernisasi.
"Melalui berbagai rangkaian tersebut, tradisi Seren Taun tidak hanya menjadi atraksi budaya, tetapi juga menjadi ruang pewarisan pengetahuan kepada generasi muda mengenai filosofi bertani, menjaga keseimbangan alam, serta mempertahankan jati diri masyarakat adat di tengah arus modernisasi," ungkapnya.
Ia berharap nilai-nilai luhur yang diwariskan dalam Seren Taun dapat terus hidup dan menginspirasi dunia pendidikan di Kabupaten Sukabumi.
"Kami berharap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Seren Taun dapat terus hidup dan menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan dalam membentuk generasi yang berkarakter, berbudaya, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan warisan leluhur," pungkasnya. (adv)
Editor : Ikbal Juliansyah