SUKABUMIUPDATE.com - Trekking saat ini jadi kegiatan yang cukup diminati banyak orang saat mengisi libur akhir pekan. Selain dapat menyegarkan pikiran dengan berjalan-jalan di luar ruangan juga bisa sekalian menyehatkan badan.
Salah satu lokasi yang sering jadi destinasi trekking ringan yaitu Gunung Dipati Ukur. Gunung ini sendiri merupakan salah satu bukit yang populer disebut gunung di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.
Tempat ini mulai dikenal di kalangan pecinta alam karena menawarkan panorama perbukitan, lembah, dan bentang alam karst khas kawasan Citatah.
Baca Juga: Sanghyang Sirah, Tempat Sakral di Ujung Barat Pulau Jawa yang Sarat Legenda
Mengutip dari berbagai sumber, nama Dipati Ukur sendiri diambil dari tokoh sejarah Sunda yang dikenal sebagai pemimpin perjuangan melawan Kesultanan Mataram pada abad ke-17.
Walaupun belum ada bukti bahwa gunung ini menjadi lokasi perjuangannya, namun penamaan tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap sosok bersejarah di tatar Pasundan tersebut.
Dari puncak gunung atau yang lebih pas disebut bukit ini, pengunjung dapat menikmati hamparan bukit kapur, lembah hijau, serta pemandangan kawasan Rajamandala yang membentang luas.
Jalur menuju puncak umumnya berupa jalan setapak yang melewati semak, pepohonan, dan beberapa tanjakan. Cocok untuk pendaki pemula yang ingin mencoba trekking singkat.
Karena berada di area yang cukup terbuka, puncaknya menjadi lokasi menarik untuk menikmati matahari terbit maupun terbenam ketika cuaca cerah.
Baca Juga: Keindahan Sanghyang Heuleut yang Dijuluki Tempat Mandinya Para Bidadari
Ada banyak hal yang bisa dilakukan di sini mulai dari trekking, menikmati panorama dari puncak, fotografi alam, berburu sunrise atau sunset, piknik ringan hingga mengamati bentang alam karst Citatah.
Lokasi Gunung Dipati Ukur
Gunung Dipati Ukur berada di Desa Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Letaknya masih berada dalam kawasan wisata alam Cipatat, sehingga cukup dekat dengan sejumlah destinasi populer seperti Stone Garden Citatah, Gua Pawon, Sanghyang Heuleut, dan Sanghyang Kenit.
Editor : Dede Imran