Sukabumi Update

Menyusuri Sungai Cileuleuy di Sukabumi, dari Trek 2 Kilometer hingga Tantangan 3 Jam

Aktivitas wisata river tubing di Desa Wisata Purwasari, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. | Foto: Istimewa

SUKABUMIUPDATE.com - Menyusuri Sungai Cileuleuy dengan pemandangan alam pedesaan menjadi aktivitas yang ditawarkan Desa Wisata Purwasari, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Wisata river tubing ini memiliki dua pilihan jalur, mulai trek sepanjang 2 kilometer dengan durasi satu jam, hingga jalur 6 kilometer yang membutuhkan waktu tiga jam.

Ketua Desa Wisata Purwasari Nuur Muhammad Ahkam mengatakan inisiasi pengembangan river tubing telah dimulai sejak 2021. Namun pelaksanaannya mulai berjalan pada 2023 dan terus dikembangkan hingga Desa Purwasari mendapat pengakuan sebagai desa wisata dari pemerintah kabupaten pada 2026. "Eksekusi 2023, dan sampai sekarang dikembangkan. Kita dapat pengakuan sebagai Desa Wisata Purwasari,” kata dia pada Sabtu (17/10/2026).

Menurutnya, titik awal kegiatan river tubing berada di Kampung Tobrong. Pengunjung dapat memilih dua jalur sesuai kebutuhan dan pengalaman yang diinginkan. Trek reguler memiliki panjang sekitar 2 kilometer dengan durasi perjalanan satu jam. Sementara itu, trek panjang membentang sekitar 6 kilometer dan membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam.

Baca Juga: Karhutla Picu 277 Ribu Kasus ISPA, 62 Ribu Korban Balita

Ahkam menjelaskan trek reguler dapat menjadi pilihan bagi pengunjung keluarga. Adapun trek panjang diperuntukkan bagi pengunjung dewasa yang menginginkan pengalaman dengan tantangan lebih. “Kalau untuk keluarga itu trek reguler, kalau trek panjang khusus dewasa, yang memang suka tantangan, baru kita bisa laksanakan di trek yang panjang,” ujarnya.

Kedua jalur tersebut dimulai dari Kampung Tobrong, sedangkan titik akhir perjalanan berbeda sesuai trek yang dipilih. Jalurnya masih berada di wilayah Desa Purwasari dan sebagian berbatasan dengan desa-desa di sekitarnya.

Rata-rata 50 Orang per Pekan

Aktivitas river tubing di Desa Wisata Purwasari beroperasi rutin setiap Sabtu dan Minggu. Pengelola menyediakan tiga jadwal keberangkatan, yakni pukul 08.00 WIB, 10.00 WIB, dan 14.00 WIB.

Pengunjung yang datang pada akhir pekan bisa mengikuti kegiatan secara perorangan maupun kelompok kecil. Sementara itu, wisatawan yang ingin datang pada hari kerja perlu melakukan pemesanan terlebih dahulu dengan jumlah minimal 10 orang.

Dari sisi biaya, pengunjung dikenakan tarif Rp 50.000 per orang untuk trek reguler. Adapun trek panjang adalah Rp 150.000 per orang.

Ahkam menyebut jumlah pengunjung river tubing saat ini rata-rata sekitar 50 orang setiap pekan, khususnya pada Sabtu dan Minggu. Angka tersebut dapat meningkat ketika ada rombongan yang melakukan pemesanan.

“Minggu kemarin kita ada sekitaran 70 orang di river tubing. Nah, minggu ini kita rencana ada tamu sekitar 80 orang yang akan tubing di Desa Wisata Purwasari. Itu hanya tubing saja, belum dengan outing dan sebagainya,” ungkap dia.

Baca Juga: 356 Hektare Sawah di Sukabumi Menyusut, Jejak Alih Fungsinya Belum Terpetakan

Menurut Ahkam, daya tarik river tubing Purwasari tidak hanya terletak pada aktivitas menyusuri sungai, tetapi juga pemandangan alam yang dapat dinikmati selama perjalanan. Kondisi sungai yang menawarkan perpaduan arus menantang dan bagian yang lebih tenang, menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung.

“Daya tariknya pasti landscape alam yang disuguhkan di Desa Wisata Purwasari. Dari ketenangan, arusnya, jadi ada tantangannya, tenangnya, sejuknya. Itulah kekuatan dari daya tarik river tubing itu sendiri,” katanya.

Libatkan Pemuda dan Warga Sekitar

Dalam pengelolaannya, Desa Wisata Purwasari melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang beranggotakan pemuda setempat. Mereka menjalankan berbagai tugas operasional, mulai menjadi pemandu hingga mendukung kebutuhan transportasi dan kegiatan wisata.

Ahkam mengatakan keterlibatan warga tidak terbatas pada pemuda Desa Purwasari. Pengelola juga berupaya melibatkan masyarakat dari kampung yang berbatasan dengan wilayah desa tersebut agar turut merasakan manfaat kegiatan wisata.

“Iya, pastinya satu di Desa Wisata Purwasari ini kita punya Pokdarwis dan Pokdarwis itu diisi oleh pemuda-pemuda desa, asli Desa Purwasari. Merekalah yang jadi guide-nya, merekalah yang jadi sopirnya, merekalah yang jadi tim pendukung operasional dari kegiatan tubing itu sendiri,” jelasnya.

Di tengah pengembangan wisata, pengelola juga menyiapkan perlengkapan keselamatan bagi pengunjung. Ahkam mengatakan peserta river tubing dibekali helm dan pelampung, serta menggunakan ban dengan pelindung tambahan atau double cover.

Pengelola pun sedang memproses rencana kerja sama dengan Jasa Raharja terkait perlindungan asuransi bagi kegiatan river tubing. Namun, kerja sama tersebut masih dalam tahap pengurusan.

“Kita sedang proses untuk MoU dengan Jasa Raharja untuk asuransinya. InsyaAllah akan segera kita lakukan kerja sama, sehingga kegiatan tubing ini juga di-cover oleh asuransi,” lanjut dia.

Terkait kondisi sungai saat hujan, Ahkam mengatakan pengelola melakukan mitigasi dengan memerhatikan debit air sebelum kegiatan dilaksanakan. Menurutnya, kegiatan tidak dilanjutkan apabila debit air dinilai terlalu tinggi.

Pengelola juga menempatkan petugas di titik akhir perjalanan untuk membantu mengawasi peserta yang menyelesaikan kegiatan river tubing. “Kalau debit airnya agak tinggi, kita enggak turun. Terus mitigasi di finish juga ada orang. Jadi, ketika ada yang lepas atau apa, di finish itu sudah ada yang menjaga,” katanya.

Ia menambahkan, standar operasional prosedur (SOP) bagi pemandu dan pelaksanaan keselamatan telah diterapkan dalam kegiatan tersebut.

Jadi Potensi Wisata

Kepala Desa Purwasari Agus Setiagunawan mengatakan pengembangan river tubing berawal dari upaya memanfaatkan potensi sungai yang ada di wilayahnya. Sungai tersebut dinilai memiliki daya tarik untuk dikembangkan menjadi aktivitas rekreasi karena kondisi alamnya masih terjaga.

“Kita memiliki potensi sungai yang memang bisa dijual, dalam tanda kutip. Akhirnya kita merencanakan bagaimana masyarakat atau pengguna wisata bisa berekreasi di sungai yang memang sudah ada dari dulu,” kata Agus.

Menurutnya, kondisi sungai yang masih bersih menjadi salah satu modal untuk mengembangkan wisata berbasis alam di Desa Purwasari. Ia juga menyebutkan, sejumlah pengunjung yang pernah datang kembali memesan kegiatan wisata di tempat tersebut.

“Masih bersih, tidak ada polusi, nyaman, dan ada repeat order. Artinya, beberapa yang sudah datang ke tempat kami itu kemudian meng-order kembali dan datang kembali,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi Ali Iskandar menyampaikan bahwa Bupati Sukabumi telah memberikan dukungan awal berupa bantuan keuangan khusus sebesar Rp 50 juta untuk pengembangan desa wisata.

Ali mengatakan, bantuan tersebut diharapkan dapat membantu melengkapi sarana yang dibutuhkan untuk menunjang aktivitas wisata di Desa Purwasari.

Salah satu kebutuhan yang disorotnya adalah perlengkapan river tubing. Saat berkunjung ke Bodogol Edu Farm di Desa Purwasari, Selasa, 13 Oktober 2026, Ali menyebutkan bahwa peralatan yang tersedia saat itu baru dapat melayani sekitar 25 orang.

“Misalkan kelengkapan untuk tubing hanya untuk 25 orang. Kalau pengunjungnya lebih dari 30, lima orang harus menunggu kurang lebih satu setengah jam,” ungkap Ali.

Ia juga menyoroti pentingnya pengembangan potensi lokal yang melibatkan masyarakat dan pemuda agar aktivitas wisata dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian warga.

“Alhamdulillah hari ini bisa datang dan menyaksikan langsung agrowisata yang terintegrasi, yang dikelola oleh desa dan melibatkan para pemuda,” kata Ali.

Menurutnya, pengembangan potensi wisata perlu diikuti dengan ide-ide kreatif yang membuka peluang usaha bagi masyarakat. “Jadi, selain wisata, ekonomi kreatifnya juga berjalan,” ujarnya.

Editor : Oksa Bachtiar Camsyah

Tags :
BERITA TERKAIT