Sukabumi Update

Masih Ingat Kejayaan Teh Indonesia? Simak Kata Pakar Teh

SUKABUMIUPDATE.com - Sudah sejak 1800-an Indonesia dikenal sebagai produsen teh di dunia. Tepatnya setelah teh jenis Assamica mulai ditanam secara massal di perkebunan Gambung pada 1877.

"Teh kita merajai pasar teh di dunia dengan kualitas bersaing," kata pakar teh Indonesia yang juga penulis buku Teh Minuman Bangsa-bangsa di Dunia, Prawoto Indarto.

Tapi, menurut Indarto, saat ini teh Indonesia kalah pamor dan dihadapkan kepada banyak problematika. Dimulai dari berkurangnya jumlah lahan sebesar delapan hektare per hari, turunnya kualitas teh, hingga pasar dalam negeri yang kurang berkembang dan dikuasai teh impor asal Vietnam.

Di kafe-kafe bergengsi, teh tidak lagi berada di urutan pertama daftar menu. "Padahal teh itu dulunya identik sebagai minuman bangsawan, sementara kopi adalah minuman rakyat," kata dia.

Menilik data yang dimiliki Asosiasi Industri Minuman Ringan tahun 2014, jumlah konsumsi teh dalam kemasan di Indonesia mencapai dua miliar liter atau sebanyak setengah kilogram daun teh per orang per tahun. Meski merujuk pada teh dalam kemasan, setidaknya data ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sangat gemar mengkonsumsi teh.

Riset lain yang dilakukan oleh Kantar Worldpanel Indonesia menemukan teh sebagai produk paling diminati untuk konsumsi luar rumah. Dari 30–40 wilayah perkotaan yang disurvei, produk teh menempati opsi pertama dari produk yang dicari untuk konsumsi luar rumah. Ceruk yang besar ini dilirik oleh Danone Aqua, yang meluncurkan teh dalam kemasan siap minum, CAAYA, 8 Maret lalu.

Pasar yang gemuk tersebut diisi anak-anak muda yang butuh relaksasi di tengah tekanan pekerjaan dan ingar-bingar gaya hidup. Demi menyesap teh, mereka tak sungkan menciptakan momen spesial seperti berkumpul bersama orang-orang terdekat, hanya untuk meminum teh sembari berbincang santai. Bagi mereka, menyesap teh sudah jadi kebutuhan.

Artis Maudy Ayunda, misalnya, menganggap teh sebagai kebutuhan. Dalam sehari dia bisa meminum teh lebih dari lima cangkir. Maudy tak mengingat persis sejak kapan dia menggemari teh.

"Saya jadi semakin sering meminum teh sejak kuliah di Inggris. Mungkin terbawa suasana di sana yang kebiasaan minum tehnya tinggi," kata dia. Sewaktu masih berkuliah di Oxford University, Inggris, Maudy terbiasa menyeruput teh di antara jam makan siang dan jam makan malam sambil membaca buku.

Sumber: Tempo

Editor : Andri Somantri

Tags :
BERITA TERPOPULER
BERITA TERKINI