Sukabumi Update

Dari Cicurug, Dompet Dhuafa Dorong Warga Sukabumi Ubah Lahan Kosong Jadi Sumber Penghasilan

Kebun Pangan Madaya di Pesantren Tahfidz Green Lido (PTGL), Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jumat (24/7/2026). (Sumber: sukabumiupdate)

SUKABUMIUPDATE.com - Lahan pekarangan yang selama ini belum dimanfaatkan dinilai memiliki potensi menjadi sumber pangan sekaligus menambah penghasilan keluarga. Berangkat dari gagasan itu, Dompet Dhuafa meresmikan Kebun Pangan Madaya di Pesantren Tahfidz Green Lido (PTGL), Jalan Manggis Girang, Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jumat (24/7/2026).

Peluncuran Kebun Pangan Madaya menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-33 Dompet Dhuafa. Program tersebut didorong sebagai model pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan lahan rumah, pekarangan, hingga kebun yang belum produktif.

Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Rahmad Riyadi, mengatakan program itu tidak hanya bertujuan menghadirkan kebun percontohan, tetapi juga mendorong masyarakat agar mampu mengelola lahannya secara mandiri.

Baca Juga: Rokok Ilegal Marak, Bea Cukai dan Satpol PP Edukasi Pemilik Warung di Sukabumi

"Kalau bisa masyarakat memanfaatkan kebun mereka. Kita sebenarnya hanya memberi contoh. Masyarakat bisa membuat kebun sendiri dengan berbagai metode, sehingga lahannya produktif dan masyarakat bisa berdikari," ujar Rahmad.

Menurutnya, di kawasan tersebut telah disiapkan berbagai model budidaya yang diharapkan dapat ditiru masyarakat. Dompet Dhuafa ingin menunjukkan bahwa lahan dengan skala kecil pun dapat memberikan manfaat ekonomi apabila dikelola dengan baik.

Rahmad menjelaskan, sektor pertanian dipilih karena Indonesia, termasuk Sukabumi, memiliki karakter sebagai masyarakat agraris. Namun, menurutnya, masih banyak petani yang belum memperoleh hasil optimal akibat pola pengelolaan yang kurang tepat.

Baca Juga: 11 Cafe Baru di Sukabumi Paruh Pertama 2026, Ada yang Buka 24 Jam hingga Bernuansa Alam

"Karena sebenarnya kita masyarakat agraris. Mungkin selama ini ada yang salah dalam pengelolaannya sehingga banyak yang merasa bertani itu rugi. Maka kita membuat model yang sederhana, tidak muluk-muluk, tetapi bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat," katanya.

Salah satu komoditas yang dikembangkan di Kebun Pangan Madaya adalah edamame. Selain mudah dibudidayakan sesuai kondisi agroklimat, tanaman tersebut dinilai memiliki nilai jual yang cukup baik.

"Dengan lahan sekitar 1.000 hektar saja bisa menghasilkan sekitar Rp13 juta sampai Rp15 juta dalam waktu tiga bulan. Ini yang ingin kita jadikan model agar bisa diterapkan di tempat lain," ungkapnya.

Baca Juga: Warungkiara Siapkan 6 Potensi Wisata Unggulan Dongkrak Ekonomi, Ini Daftarnya

Ia menegaskan, program tersebut bukan sekadar memberikan bantuan pertanian, tetapi juga menghadirkan pola budidaya yang dapat menjadi acuan bagi masyarakat, mulai dari teknik tanam hingga pendampingan.

Untuk saat ini, pengelolaan kebun di PTGL masih dilakukan oleh tim Dompet Dhuafa bersama petani melalui sistem bagi hasil. Ke depan, program itu diharapkan dapat diperluas dengan melibatkan lebih banyak pemilik lahan dan masyarakat sekitar.

Deputi Direktur Corporate Secretary Dompet Dhuafa, Dian Mulyadi, menambahkan hasil panen edamame di lokasi tersebut telah memiliki pembeli sehingga pemasarannya sudah berjalan. "Untuk yang di Lido ini, edamame sudah ada buyer-nya. Jadi hasil panennya sudah rutin terserap," ujarnya.

Baca Juga: Pemilik Lahan: Tambang Emas Ilegal di Lengkong Sudah Ditutup Sebelum Longsor Maut

Dian mengatakan, Kebun Pangan Madaya merupakan bagian dari program lingkungan hijau produktif Dompet Dhuafa yang kini telah tersebar di 10 provinsi, mencakup 13 kebun komunitas dan ratusan kebun skala rumah tangga. Program tersebut melibatkan ratusan penerima manfaat melalui pola pendampingan, pelatihan, bantuan bibit, pupuk, hingga evaluasi berkala.

Menurutnya, tujuan program tidak hanya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam bertani, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan keluarga, membantu pemenuhan gizi rumah tangga, sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan dari hasil panen.

"Ini memang masih skala kecil, tetapi kami ingin menjadikannya sebagai model percontohan yang bisa direplikasi oleh banyak pihak, termasuk pemerintah, sehingga masyarakat bisa memanfaatkan lahannya untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus memperoleh tambahan penghasilan," jelas Dian.

Baca Juga: Sebut Londo Ireng Berprofesi Wartawan, AJI Desak Prabowo Minta Maaf

Ia menambahkan, jenis tanaman yang dikembangkan di setiap daerah disesuaikan dengan kondisi lahannya. Di Cicurug dipilih edamame, sedangkan di daerah lain dikembangkan berbagai komoditas hortikultura seperti kangkung, bayam, hingga jagung.

Sementara itu, Rahmad mengakui tantangan terbesar dalam program pemberdayaan pertanian adalah risiko gagal panen. Karena itu, Dompet Dhuafa terus berupaya mengembangkan pola budidaya yang mudah diterapkan masyarakat, bahkan sebisa mungkin menggunakan konsep pertanian ramah lingkungan.

"Tantangannya memang banyak. Pertanian itu tidak mudah karena ada risiko gagal panen. Itu yang harus kita antisipasi supaya masyarakat tetap termotivasi untuk bertani," pungkasnya.

 

Editor : Fitriansyah

Tags :
BERITA TERKAIT