Sukabumi Update

Mengintip Ketangguhan Pengrajin Batu Cadas Sukabumi yang Masih Pahat Fondasi Rumah Secara Manual

Dua pengrajin batu cadas di Desa Boregah Indah, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Sukabumi, memahat dan membentuk batu fondasi secara manual menggunakan alat sederhana. (Sumber Foto: SU/Ragil)

SUKABUMIUPDATE.com - Di tengah gempuran tren material bangunan modern dan batu cetakan pabrikan, para pengrajin batu cadas tradisional di Kampung Boregah, Desa Boregah Indah, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Sukabumi, tetap setia menjaga warisan keahlian mereka.

Tanpa tersentuh modernisasi mesin, mereka memahat batu alam secara manual demi menyambung hidup sekaligus menyediakan material fondasi bangunan yang kokoh.

Salah seorang pengrajin veteran, Anda (50), membeberkan bahwa hamparan deposit batu cadas alami di atas lahan warga seluas 800 meter persegi dimanfaatkan secara swadaya sebagai bahan baku utama.

Batu-batu keras tersebut dipahat satu per satu dengan ketelitian tinggi hingga membentuk presisi ukuran 40 sentimeter x 20 sentimeter yang siap dipakai untuk konstruksi rumah tinggal.

"Harga satu biji batu pondasi Rp6.000. Pembeli biasanya dari Cimanggu, Kalibunder, bahkan ada juga dari Jampangkulon," ujar Anda kepada sukabumiupdate.com, Rabu (29/7/2026).

Baca Juga: Overload Donasi Pakaian di Posko Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya, Relawan Butuh Tambahan Hanger

Mengenai skema pengelolaan lahan batu cadas milik warga, Anda menjelaskan bahwa para pengrajin menerapkan sistem kerja yang fleksibel.

Beberapa pemilik lahan hanya meminta areanya diratakan agar bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain, sementara yang lain menerapkan sistem persentase bagi hasil dari setiap batu yang berhasil terjual.

Dengan mengandalkan alat-alat pertukangan sederhana seperti kapak dan belincong, Anda mampu memproduksi hingga sekitar 20 buah batu fondasi dalam sehari, tergantung tingkat kekerasan material batu. Seluruh proses pengolahan dilakukan secara manual dari pukul 07.00 WIB hingga 12.00 WIB.

Pengrajin yang telah menekuni profesi ini selama hampir 10 tahun tersebut menuturkan bahwa keterampilan memahat batu cadas bukanlah keahlian yang dipelajari secara instan, melainkan warisan keahlian turun-temurun dari keluarganya.

Lokasi garapannya pun kerap berpindah-pindah mengikuti ketersediaan lahan batu cadas milik warga Desa Boregah Indah.

Saat ini, dari empat pengrajin yang semula beraktivitas di lokasi tersebut, hanya tersisa dua orang yang masih aktif bertahan, termasuk Anda.

Dalam sepekan, volume penjualan batu pondasi mereka berkisar antara 50 hingga 100 buah, tergantung dinamika pesanan konsumen. Jika permintaan sedang sepi dan musim bercocok tanam tiba, para pengrajin mengalihkan aktivitas harian untuk menggarap sawah atau kebun.

Baca Juga: Gedepangrango dan Odeon: Wisata Sukabumi Menuju Wonderful Indonesia Awards 2026

Anda tak memungkiri bahwa penggunaan mesin pemotong modern sebenarnya mampu meningkatkan efisiensi dan volume produksi hingga berlipat ganda. Namun, benteng keterbatasan modal finansial memaksa para pengrajin lokal tetap menggantungkan nasib pada kekuatan otot dan alat manual.

"Kalau pakai mesin memang bisa lebih cepat, tetapi kami terkendala modal untuk membeli peralatannya," ungkapnya.

Kendati demikian, Anda menjamin bahwa kualitas batu cadas alami buatan tangan memiliki tingkat presisi dan daya tahan benturan yang jauh lebih unggul ketimbang batu pondasi hasil cetakan semen komersial.

"Ini untuk fondasi bangunan rumah, dijamin awet karena batu alami, bukan batu cetakan," tegas Anda meyakinkan.

Keteguhan para pemahat batu cadas di Kampung Boregah menjadi potret nyata perjuangan rakyat kecil di wilayah Sukabumi selatan. Di tengah terpaan persaingan material pabrikan yang kian masif, mereka terus membanting tulang mempertahankannya sebagai sumber penghidupan sekaligus melestarikan tradisi kerajinan batu alam yang telah diwariskan lintas generasi.

Editor : Denis Febrian

Tags :
BERITA TERKAIT