SUKABUMIUPDATE.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nusa Putra menghadirkan sejumlah inovasi berbasis kebutuhan masyarakat selama melaksanakan pengabdian di Desa Langensari, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Dua program yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah Aquakultur dan TEPANOM (Tebar Pupuk Sumber Anom).
Kegiatan KKN berlangsung pada 9 Maret hingga 18 April 2026 dengan Mochamad Rival Alfatih sebagai ketua kelompok. Program tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk menerapkan ilmu dan keterampilan secara langsung melalui pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi lokal.
Kelompok KKN ini terdiri atas Mochamad Rival Alfatih, Usman Syarif, Muhammad Yasa Musyafa, Rido Renaldi, Audy Andira Tyas, Layla Nurhasanah, Tiara Rahmi, Iqlimah Sobariah, Revalina Putri Nurafni, dan Rahma Rahayu. Seluruh rangkaian kegiatan mendapatkan pendampingan dari Dr. Agus Hendriyanto, M.Pd. selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).
Desa Langensari sendiri memiliki karakter masyarakat yang cukup kuat pada sektor pertanian. Berdasarkan proposal kegiatan, mayoritas masyarakat di wilayah sasaran bekerja sebagai petani dan buruh tani, termasuk pada sektor pertanian bunga yang memiliki potensi ekonomi cukup menjanjikan. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar mahasiswa dalam merancang program yang dekat dengan aktivitas masyarakat.
Baca Juga: Jawab Tantangan Zaman, Nusa Putra University Buka S1 Fisioterapi Berbasis Digital dan Inovasi
Aquakultur, Mengintegrasikan Tanaman, Ayam, dan Ikan
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Aquakultur, sebuah konsep budidaya terintegrasi yang menggabungkan tanaman, peternakan ayam, dan budidaya ikan dalam satu sistem. Konsep ini juga mengusung pendekatan akuakultur unggas, dengan mengintegrasikan komponen unggas dan ikan bersama tanaman dalam satu rancangan budidaya.
Dalam rancangan yang dikembangkan mahasiswa, bagian atas sistem dimanfaatkan untuk menanam sayuran. Di bawahnya terdapat kandang ayam, sementara bagian paling bawah digunakan sebagai tempat budidaya ikan, seperti ikan lele.
Konsep tersebut dirancang untuk menciptakan hubungan antarkomponen dalam satu ekosistem budidaya. Limbah yang dihasilkan dari aktivitas peternakan tidak hanya dipandang sebagai buangan, tetapi dikelola dan dimanfaatkan sebagai bagian dari siklus sistem. Air dari kolam ikan juga disirkulasikan menggunakan pompa menuju bagian tanaman sehingga nutrisi dalam sistem dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Selain mengintegrasikan beberapa jenis komoditas dalam satu sistem, desain Aquakultur ini juga memiliki keunggulan dari sisi pemanfaatan ruang. Bentuknya yang dibuat bertingkat memungkinkan sistem diterapkan pada lahan yang terbatas maupun lahan yang sebelumnya belum termanfaatkan secara optimal. Dengan demikian, satu area dapat dimanfaatkan untuk beberapa kegiatan budidaya sekaligus, mulai dari tanaman, unggas, hingga ikan.
Dengan demikian, Aquakultur tidak hanya berorientasi pada satu hasil produksi, tetapi mencoba mengintegrasikan beberapa komoditas dalam satu sistem yang saling mendukung.
Konsep tersebut sejalan dengan semangat program KKN yang menempatkan pemberdayaan masyarakat sebagai salah satu fokus utama. Dalam proposal, mahasiswa menggunakan pendekatan partisipatif, edukatif, dan aplikatif, sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan penjelasan, tetapi juga terlibat dalam praktik dan pengelolaan program.
Melalui model tersebut, mahasiswa berharap masyarakat dapat melihat peluang pengembangan sistem budidaya yang lebih efisien dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Inovasi Aquakultur tersebut kemudian diperkenalkan melalui kegiatan sosialisasi kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat. Dalam prosesnya, mahasiswa tidak berjalan sendiri, tetapi mendapatkan pendampingan dan dukungan dari pihak Pemerintah Desa Langensari. Keterlibatan Gapoktan dan pihak desa menjadi bagian penting dalam memperkenalkan konsep tersebut kepada masyarakat yang secara langsung berkaitan dengan aktivitas pertanian dan budidaya.
Aquakultur yang dirancang mahasiswa KKN Universitas Nusa Putra di Desa Langensari.
TEPANOM, Inovasi Sederhana untuk Memudahkan Petani
Selain Aquakultur, mahasiswa KKN juga menghadirkan TEPANOM, singkatan dari Tebar Pupuk Sumber Anom.
Berbeda dengan Aquakultur yang mengintegrasikan beberapa sektor budidaya, TEPANOM hadir untuk menjawab persoalan sederhana yang ditemui dalam aktivitas pertanian, khususnya ketika petani melakukan pemupukan.
TEPANOM dirancang dalam bentuk alat menyerupai tongkat atau tabung panjang. Pupuk dimasukkan melalui bagian atas alat, kemudian diarahkan langsung menuju lubang tanam atau lubang benih.
Desain tersebut memungkinkan petani melakukan pemupukan dalam posisi berdiri. Petani tidak perlu berulang kali membungkukkan badan untuk mengambil dan menaburkan pupuk ke setiap lubang tanam.
Sederhana, tetapi fungsional. Prinsip tersebut menjadi kekuatan utama TEPANOM. Mahasiswa berusaha membuat inovasi yang tidak rumit sehingga lebih mudah dipahami dan digunakan oleh masyarakat, khususnya petani yang menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi Desa Langensari.
Kehadiran alat tersebut juga menunjukkan bahwa inovasi di sektor pertanian tidak selalu harus berupa teknologi dengan sistem yang kompleks. Modifikasi sederhana terhadap proses kerja sehari-hari dapat menjadi solusi apabila benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
Mahasiswa KKN saat menyerahkan TEPANOM kepada petani.
Dari KKN untuk Keberlanjutan Masyarakat
Dua inovasi tersebut memperlihatkan pendekatan yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama: mendorong aktivitas masyarakat menjadi lebih efektif, produktif, dan berkelanjutan.
Aquakultur dikembangkan dengan pendekatan sistem, yakni menghubungkan tanaman, ayam, dan ikan dalam satu ekosistem budidaya. Sementara TEPANOM berfokus pada efisiensi aktivitas petani melalui alat bantu pemupukan yang lebih praktis.
Program tersebut juga melengkapi semangat KKN Mandiri Universitas Nusa Putra yang diarahkan pada pemberdayaan masyarakat. Proposal kegiatan menargetkan agar masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu mengoperasikan dan mengembangkan teknologi budidaya secara mandiri setelah kegiatan pengabdian berakhir.
Bagi mahasiswa, KKN bukan sekadar kegiatan akademik yang berlangsung selama beberapa pekan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memahami persoalan masyarakat secara langsung dan kemudian menerjemahkannya menjadi solusi yang dapat diterapkan.
Baca Juga: Tim Restek Nusa Putra University Raih Hibah Rp50 Juta di Hackathon PRIME STeP 2026 IPB
Sementara bagi masyarakat Desa Langensari, kehadiran inovasi seperti Aquakultur dan TEPANOM diharapkan dapat membuka wawasan baru mengenai pemanfaatan teknologi sederhana dalam aktivitas pertanian dan budidaya.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, Gapoktan, dan masyarakat, berbagai inovasi tersebut diharapkan tidak berhenti setelah masa KKN berakhir. Keberlanjutan menjadi bagian penting agar program yang telah diperkenalkan dapat terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat Desa Langensari.
Pada akhirnya, Aquakultur dan TEPANOM menjadi gambaran bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat dimulai dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari sebuah sistem budidaya yang menghubungkan ikan, ayam, dan tanaman hingga sebuah alat sederhana untuk membantu petani menaburkan pupuk, mahasiswa KKN berupaya menghadirkan inovasi yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam menghadirkan kontribusi nyata perguruan tinggi melalui pemberdayaan dan pengembangan potensi masyarakat. (*)
Editor : Denis Febrian