SUKABUMIUPDATE.com - Gelombang demonstrasi besar di Iran selama dua pekan terakhir menimbulkan banyak korban. Kelompok hak asasi manusia dari kalangan oposisi mencatat hingga Minggu 11 Januari 2026, lebih dari 500 orang tewas dalam aksi unjuk rasa menentang rezim ulama Republik Islam di Iran, dan lebih 10 ribu orang ditangkap.
Melansir CNA dari tempo.co, kelompok aktivis hak asasi manusia dari dalam dan luar Iran, berbasis di Amerika Serikat, HRANA mengatakan telah memverifikasi kematian 490 demonstran dan 48 personel keamanan, dengan lebih dari 10.600 orang ditangkap dalam dua pekan kerusuhan. Pemerintah Iran sendiri belum memberikan keterangan resmi dari angka-angka tersebut.
Protes yang meluas di seluruh Iran membuat Teheran mengancam akan menargetkan pangkalan militer AS jika Presiden Donald Trump tangan atas nama para demonstran. Ini merespon keinginan Trump yang berulang kali mengancam akan campur tangan jika kekerasan digunakan terhadap para demonstran, dalam aksi unjuk rasa yang yang disebut terbesar sejak 2022.
Baca Juga: Pengelolaan Infrastruktur Dianggap Buruk, Kantor Dinas Bina Marga Jabar Digeruduk Mahasiswa
Trump dijadwalkan bertemu dengan penasihat senior pada Selasa 13 Januari 2026 untuk membahas opsi bagi Iran, kata seorang pejabat AS pada Ahad. Wall Street Journal telah melaporkan bahwa opsi tersebut termasuk serangan militer, penggunaan senjata siber rahasia, perluasan sanksi, dan pemberian bantuan daring kepada sumber-sumber anti-pemerintah.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan Washington agar tidak melakukan "kesalahan perhitungan".
"Mari kami perjelas: Jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta semua pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kami," kata Qalibaf, mantan komandan Garda Revolusi elit Iran.
Baca Juga: Perkuat Sinergi Lindungi Pekerja Migran, Wali Kota Sukabumi Sambangi Menteri P2MI
Unjuk Rasa Dipicu Kenaikan Biaya Hidup
Protes dimulai pada 28 Desember sebagai tanggapan terhadap kenaikan harga yang melonjak, sebelum kemudian berbalik melawan penguasa ulama yang telah memerintah sejak Revolusi Islam 1979.
Pihak berwenang Iran menuduh AS dan Israel memicu kerusuhan dan menyerukan demonstrasi nasional pada Senin 12 Januari 2026 untuk mengutuk "tindakan teroris yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Israel," lapor media pemerintah.
Arus informasi dari Iran terhambat oleh pemadaman internet sejak Kamis. Rekaman yang diunggah di media sosial pada Sabtu dari Teheran menunjukkan kerumunan besar berbaris di malam hari, bertepuk tangan dan meneriakkan slogan. Kerumunan itu "tidak ada ujung maupun awal," terdengar suara seorang pria berkata.
Baca Juga: Wali Kota Sukabumi Kumpulkan Pengusaha Hiburan, Hotel, dan Restoran Bahas Optimalisasi PAD
Rekaman dari kota Mashhad di timur laut menunjukkan asap mengepul ke langit malam dari kebakaran di jalan, para demonstran bermasker, dan jalan yang dipenuhi puing-puing, seperti yang terlihat dalam video lain yang diunggah Sabtu, 10 januari 2026.
Televisi pemerintah menayangkan puluhan kantong mayat di lantai kantor koroner Teheran, dan mengatakan bahwa para korban tewas adalah korban dari peristiwa yang disebabkan oleh "teroris bersenjata", serta rekaman keluarga yang berkumpul di luar Pusat Medis Forensik Kahrizak di Teheran menunggu untuk mengidentifikasi jenazah.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres terkejut dengan laporan kekerasan yang dilakukan oleh otoritas Iran dan mendesak pengekangan maksimal. "Hak atas kebebasan berekspresi, berasosiasi, dan berkumpul secara damai harus sepenuhnya dihormati dan dilindungi," katanya melalui platform X.
Baca Juga: Dramatis, Pasien dan Warga Dievakuasi Keluar Puskesmas Palabuhanratu yang Terendam Banjir
Otoritas pada Ahad menyatakan tiga hari berkabung nasional "untuk menghormati para martir yang gugur dalam perlawanan terhadap Amerika Serikat dan rezim Zionis", menurut media pemerintah.
Rezim Mullah Ditekan
Meskipun otoritas Iran telah mengatasi protes sebelumnya, aksi protes terbaru terjadi ketika Teheran masih pulih dari perang tahun lalu. Dengan posisi regionalnya yang melemah akibat pukulan terhadap sekutu seperti Hizbullah Lebanon sejak serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Kerusuhan di Iran pecah bersamaan dengan Trump memamerkan kekuatan AS secara internasional, setelah penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, dan membahas akuisisi Greenland melalui pembelian atau kekerasan.
Baca Juga: Penyintas Bencana di Lembursawah Pabuaran Sukabumi Menunggu Kunci Hunian Tetap dari BNPB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Israel dan AS adalah dalang di balik destabilisasi dan bahwa musuh-musuh Iran telah membawa masuk "teroris ... yang membakar masjid ... menyerang bank, dan properti publik".
“Kepada keluarga, saya meminta Anda: Jangan biarkan anak-anak kecil Anda bergabung dengan para perusuh dan teroris yang memenggal kepala orang dan membunuh orang lain,” katanya dalam sebuah wawancara televisi. Ia menambahkan bahwa pemerintah siap mendengarkan rakyat dan menyelesaikan masalah ekonomi.
Iran memanggil duta besar Inggris pada Ahad ke kementerian luar negeri terkait “komentar intervensionis” yang dikaitkan dengan menteri luar negeri Inggris dan seorang demonstran yang menurunkan bendera Iran dari gedung Kedutaan Besar London dan menggantinya dengan bendera yang digunakan sebelum Revolusi Islam 1979.
Baca Juga: Bek Liverpool, Conor Bradley Dipastikan Absen Hingga Akhir Musim
Kantor luar negeri Inggris tidak segera menanggapi permintaan komentar. Alan Eyre, mantan diplomat AS dan ahli Iran, berpendapat bahwa kecil kemungkinan protes tersebut akan menggulingkan pemerintahan.
“Saya pikir lebih mungkin bahwa protes ini pada akhirnya akan meredam, tetapi pemerintah akan keluar dari proses tersebut dengan jauh lebih lemah,” katanya, mencatat bahwa elit Iran masih tampak kohesif dan tidak ada oposisi terorganisir.
Televisi pemerintah Iran menyiarkan prosesi pemakaman di kota-kota bagian barat seperti Gachsaran dan Yasuj untuk personel keamanan yang tewas dalam protes.
Baca Juga: Perseteruan Kembali Terjadi, Ari Lasso Minta Dearly Joshua Hapus Foto Bali
Televisi pemerintah mengatakan 30 anggota pasukan keamanan akan dimakamkan di kota Isfahan di Iran tengah dan enam lainnya tewas oleh "perusuh" di Kermanshah di barat.
Trump Mengancam
Trump, melalui unggahan di media sosial pada Sabtu, mengatakan: "Iran sedang mengincar KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!"
Dalam percakapan telepon pada Sabtu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membahas kemungkinan intervensi AS di Iran, menurut sumber Israel yang hadir dalam percakapan tersebut.
Baca Juga: Sinopsis Film Musuh dalam Selimut, Kisah Persahabatan yang Berubah Menjadi Ancaman
Beberapa anggota parlemen AS pada Ahad mempertanyakan kebijaksanaan mengambil tindakan militer terhadap Iran. Senator Republik Rand Paul dan Senator Demokrat Mark Warner memperingatkan bahwa alih-alih melemahkan rezim, serangan militer terhadap Iran dapat menggalang rakyat melawan musuh dari luar.
Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran yang tinggal di AS dan didukung oleh Israel, mengatakan Trump telah mengamati "keberanian yang tak terlukiskan" dari rakyat Iran. "Jangan tinggalkan jalanan," tulis Pahlavi di X.
Editor : Fitriansyah