SUKABUMIUPDATE.com - Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI, Anis Matta, mengeluarkan peringatan keras mengenai kondisi dunia yang saat ini sedang berada dalam titik didih. Situasi global yang kian tidak menentu memaksa Pemerintah Indonesia mengambil langkah ekstrem dengan masuk ke dalam fase "survival mode".
Pernyataan tersebut disampaikan Anis Matta usai membedah materi dan isu geopolitik di Nusa Putra University (NPU) Sukabumi, Rabu (21/1/2026). Ia menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah mengidentifikasi adanya ancaman besar di mana potensi terjadinya perang kini jauh melampaui potensi damai.
"Sebenarnya dari awal Presiden Prabowo sudah menyatakan bahwa memang kita hidup dalam dunia yang sangat kacau, ada di ambang perang. Bahkan beliau mengatakan potensi perangnya jauh lebih besar daripada potensi damainya," ujar Anis Matta kepada sukabumiupdate.com, Rabu (21/1/2026).
Kondisi dunia yang kacau ini membuat pemerintah memprioritaskan ketahanan nasional agar tidak tergilas dalam persaingan negara-negara adidaya. Anis menyebut strategi bertahan adalah harga mati agar rakyat Indonesia tidak menjadi korban sia-sia.
Baca Juga: 27 Ribu Lebih WNI Dipulangkan Sepanjang 2025, Isu TPPO dan Scam Kamboja Jadi Sorotan
"Yang dipikirkan oleh pemerintah pertama kali adalah bagaimana kita bisa tetap bertahan. Istilah beliau (Presiden), ini ada dalam survival mode supaya kita tidak menjadi collateral damage, tidak menjadi korban dari pertarungan negara adidaya," tegasnya.
Anis juga mengingatkan masyarakat bahwa ancaman ini bukan isapan jempol atau sekadar isu diplomatik. Ia menuntut adanya kesadaran publik bahwa situasi geopolitik ini akan berdampak langsung pada dapur masyarakat.
"Ini waktunya kita mengubah isu-isu geopolitik menjadi isu sehari-hari, isu domestik yang kita perbincangkan, karena ini mempengaruhi seluruh kehidupan kita sehari-hari," tambah Anis.
Desak PBB dan Langkah Strategis
Menanggapi berbagai krisis termasuk persoalan di Venezuela, Wamenlu mendesak agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak tinggal diam. Ia menuntut PBB segera mengumpulkan para pemimpin dunia sebelum eskalasi menjadi tidak terkendali.
"Ada semacam keharusan bagi PBB sekarang ini untuk membangun forum yang mengumpulkan leader dari semua negara untuk berbicara secara serius dan terbuka, sebelum situasi global ini tereskalasi menjadi perang," katanya.
Meski fokus pada penyelamatan diri (survival), Indonesia dipastikan tetap aktif dalam percaturan global. Keterlibatan dalam isu-isu strategis seperti Palestina menjadi salah satu cara Indonesia untuk tetap memiliki suara dalam "dapur" pengambilan keputusan dunia.
"Ini akan membawa kita dalam engagement yang lebih intensif, bukan hanya dalam isu Palestina, tapi dalam seluruh isu-isu strategis global untuk menentukan sejarah umat manusia ke depan," pungkasnya.
Editor : Syamsul Hidayat