SUKABUMIUPDATE.com - Menjalani Ramadan di negara dengan Muslim sebagai minoritas memberi pengalaman berbeda bagi Yudi Muhammad Rizki, warga Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, yang kini bekerja di Sydney, Australia.
Ia mengatakan suasana Ramadan di sana tidak terasa seperti di Indonesia. Aktivitas masyarakat berjalan normal, tempat makan tetap buka, dan tidak ada lantunan azan yang terdengar di ruang publik. “Di sini tidak ada suara azan. Suasananya seperti hari biasa,” kata Yudi kepada sukabumiupdate.com, Sabtu (21/2/2026).
Meski demikian, umat Muslim tetap menjalankan ibadah seperti biasa. Jam kerja tidak mengalami pengurangan, sehingga ia dan Muslim lainnya tetap beraktivitas normal hingga waktu berbuka.
Komunitas Muslim cukup terasa di beberapa kawasan seperti Lakemba dan Punchbowl. Di masjid-masjid wilayah tersebut kerap diadakan buka puasa bersama dengan makanan dari donatur. “Makan bersama di masjid, tarawih bersama, terasa seperti keluarga walaupun tidak saling kenal,” ujarnya.
Baca Juga: Dari Cicurug ke Sydney, Yudi Rasakan Puasa Lebih Panjang Saat Musim Panas
Terkait makanan halal, Yudi menyebut tidak sulit menemukannya. Restoran halal tersedia, termasuk makanan khas Timur Tengah dan Asia Selatan. Makanan Indonesia pun ada, seperti nasi padang, mi goreng hingga bakso.
Namun menurutnya, meski jenis makanannya sama, rasanya tetap berbeda dengan yang ada di kampung halaman. “Ada bakso juga di sini, ada makanan Indonesia, tapi tetap saja rasanya beda dengan di Sukabumi,” katanya.
Ia mengaku tetap memastikan langsung kepada penjual atau memilih tempat dengan label halal resmi sebelum membeli makanan.
Meski kebutuhan ibadah dan makanan terpenuhi, Yudi mengaku tetap merindukan suasana Ramadan di Indonesia, terutama menjelang waktu magrib. “Yang dirindukan itu suara azan dan suasana menjelang berbuka. Di sini terasa biasa saja,” ucapnya.
Editor : Syamsul Hidayat