SUKABUMIUPDATE.com - Israel meluncurkan serangan terhadap Iran di bulan Suci Ramadan, pada Sabtu (28/02/2026). Terdengar ledakan di ibu kota Iran, teheran atas kejadian tersebut dimana asap tebal terlihat membubung tinggi.
Mengutip Tempo.co, Atas kejadian tersebut, Juru bicara Organisasi Penerbangan Sipil Iran, Majid Akhavan mengumumkan bahwa seluruh wilayah udara negara kini ditutup dan menunggu pemberitahuan lebih lanjut.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan terhadap Iran dilakukan sebagai operasi militer gabungan antara AS dan Israel. Ia menambahkan serangan udara gabungan AS-Israel ini bertujuan untuk melumpuhkan aparat keamanan Iran.
Komunikasi telepon seluler terganggu di beberapa wilayah ibu kota Iran, Teheran. Saat ini, panggilan telepon tidak dapat dilakukan. Ada kemungkinan internet juga akan segera terganggu.
Baca Juga: Update Kecelakaan di Cicurug, Pemotor Meninggal Dunia Saat Perjalanan ke RSUD Sekarwangi
Sirene juga berbunyi di seluruh Israel, yang menyatakan keadaan darurat "khusus dan mendesak" di seluruh negeri yang mencakup larangan kegiatan pendidikan, pertemuan, dan tempat kerja, kecuali untuk sektor-sektor penting.
Serangan tersebut terjadi di tengah upaya diplomatik antara pejabat AS dan Iran untuk mencapai kesepakatan tentang program nuklir Iran di Jenewa pekan ini.
Israel Paksa Trump?
Mehran Kamrava, direktur unit studi Iran di Pusat Penelitian dan Studi Kebijakan Arab dan profesor di Universitas Georgetown di Qatar, mengatakan bahwa meskipun ia tidak berpikir AS akan menyerang Iran, Israel telah "cukup vokal tentang niatnya untuk menyabotase negosiasi AS-Iran".
“Seperti yang terjadi Juni lalu, tampaknya mereka telah melancarkan serangan yang dirancang untuk menggagalkan negosiasi antara Iran dan AS,” kata Kamrava kepada Al Jazeera.
Baca Juga: Gagal Nyalip, Kronologi Pengendara Motor Terlindas Wing Box di Cicurug Sukabumi
“Saya pikir [Presiden AS] Donald Trump telah memojokkan dirinya sendiri ke sudut yang tidak bisa ia tinggalkan. Yang disebut armada, pembangunan militer besar-besaran, lampu hijau terus-menerus kepada Israel selama satu setengah tahun terakhir, dan jadi saya pikir dalam banyak hal, sekali lagi, apa yang kita lihat adalah Israel memaksa Donald Trump untuk bertindak dan dia tidak bisa benar-benar mengatakan tidak kepada mereka pada saat ini,” ujar Kamrava.
Sumber: Tempo.co
Editor : Ikbal Juliansyah