SUKABUMIUPDATE.com - Pabrik desalinasi air tawar di Pulau Qeshm, Iran telah diserang oleh Amerika Serikat. Akibatnya pasokan air minum ke desa-desa terganggu hingga terancam keberlangsungannya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada hari Sabtu 7 Maret 2026 mengecam keras serangan Amerika Serikat di Teluk Persia yang merusak fasilitas air minum dan mengganggu pasokan air.
Abbas Araghchi menilai serangan tersebut telah memengaruhi pasokan air sekitar 30 desa. Ia menjelaskan jika keputusan AS menargetkan infrastruktur sipil seperti fasilitas air adalah langkah berbahaya dan hal tersebut dapat menimbulkan konsekuensi serius.
“AS melakukan kejahatan yang terang-terangan dan putus asa dengan menyerang pabrik desalinasi air tawar di Pulau Qeshm. Pasokan air di 30 desa telah terpengaruh,” kata Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
“Menyerang infrastruktur Iran adalah langkah berbahaya dengan konsekuensi yang serius. AS yang menetapkan preseden ini, bukan Iran,” pungkasnya Sabtu 7 Mret 2026 dalam akun X-nya.
Mengutip laporan Al Jazeera, menanggapi hal itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tak tinggal diam dan mengatakan telah menargetkan “Pangkalan AS di Juffair, Bahrain, dengan rudal berbahan bakar padat dan cair”.
Serangan ini merupakan tanggapan terhadap serangan AS yang telah menyerang pabrik desalinasi di Qeshm, demikian pernyataan IRGC.
Sementara itu Iran menggunakan desalinasi, terutama di daerah pesisir seperti Pulau Qeshm yang berlokasi di Teluk Persia. Pabrik-pabrik ini menyediakan air tawar bagi masyarakat pulau dan pemukiman pesisir di mana sumber air tawar alami disana sangat terbatas keberadaannya.
Dimana pasokan air Iran secara keseluruhan lebih bergantung pada bendungan, sungai, dan sumur bawah tanah daripada pada pabrik desalinasi.
Kerusakan pada fasilitas vital ini dengan cepat memengaruhi kehidupan sehari-hari karena pasokan air minum untuk masyarakat dapat terhenti dalam hitungan jam atau hari. Dimana instalasi pengolahan air adalah infrastruktur sipil yang berlandaskan hukum internasional.
Apabila desalinasi di Iran berhenti beroperasi, maka masyarakat di sekitarnya yang tergantung dari pasokan air ini dapat menghadapi masalah serius.
Pembangkit desalinasi sendiri adalah fasilitas yang menghasilkan air tawar dari air payau atau air laut, terutama menggunakan metode seperti osmosis terbalik, yang menyaring garam terlarut melalui membran semipermeabel di bawah tekanan tinggi.
Mengutip jurnal penelitian dengan studi kasus “Pemanfaatan Ultrafiltrasi untuk Pengolahan Air Tambak” oleh I G. Wenten, Desalinasi merupakan salah satu cara untuk mengatasi kebutuhan air tawar. Di dunia, kapasitas desalinasi total pada tahun 1971 adalah 1,5 juta m3
/hari dan pada tahun 1995, kapasitas total ini meningkat hingga 20,3 juta m3 /hari dengan 11.000 instalasi yang tersebar di 120 negara di dunia. Sekitar 50% kapasitas ini berada di Teluk Persia dengan 30%-nya terdapat di Arab Saudi.
Plant desalinasi terbesar terletak di kompleks Al Jubail Phase II yang telah berproduksi sejak tahun 1982 menghasilkan hampir 1 juta m3 /hari. Proses membran misalnya RO
(reverse osmosis) dapat digunakan pada proses desalinasi air laut dan air payau untuk menghasilkan air tawar.
Di Amerika Serikat terdapat sekitar 1900 unit desalinasi dengan kapasitas lebih dari 15% produksi dunia. Sebagian besar produksi dilakukan dengan menggunakan proses membran RO khususnya untuk pengolahan air payau maupun air permukaan
Sumber: Berbagai Sumber
Editor : Ikbal Juliansyah