SUKABUMIUPDATE.com - Amerika Serikat dilaporkan harus merogoh kocek hingga US$61 miliar atau sekitar Rp1.000 triliun demi mendanai operasional militer terhadap konflik Iran. Menurut situs pelacak Iran War Cost Tracker, dimana portal tersebut memantau secara realtime.
Dimana biaya tersebut membengkak karena pengeluaran harian diprediksi mencapai Rp17 triliun (US$1 miliar). Bahkan dalam enam hari pertama operasi menelan biaya US$11,3 miliar (sekitar Rp194 triliun).
Angka jumbo tersebut didasarkan pada perhitungan personel dan kapal perang yang dikerahkan, merujuk pada metodologi perhitungannya berdasarkan atas laporan Pentagon kepada Kongres.
Baca Juga: Borneo FC vs Semen Padang, Misi Pesut Etam Samai Poin Persib Bandung
Amunisi AS dalam Perang Melawan Iran
Mengutip Tempo.co, sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari, Amerika Serikat telah menghabiskan sekitar 1.100 rudal jelajah siluman jarak jauh. Rudal ini dibangun untuk perang dengan Cina dan mendekati jumlah total yang tersisa dalam persediaan AS.
Militer telah menembakkan lebih dari 1.000 rudal jelajah Tomahawk, kira-kira 10 kali lipat dari jumlah yang saat ini dibeli setiap tahun.
Pentagon menggunakan lebih dari 1.200 rudal pencegat Patriot dalam perang tersebut, dengan harga lebih dari US$4 juta per unit.
Baca Juga: Akui Sejumlah Perizinan Belum Lengkap, Humas PT Agri Panen Lestari Sukabumi: Diproses
Militer AS juga menggunakan lebih dari 1.000 rudal berbasis darat Precision Strike dan ATACMS, sehingga persediaan menjadi sangat rendah, menurut perkiraan internal Departemen Pertahanan dan pejabat kongres.
Perang Iran telah secara signifikan menguras sebagian besar pasokan amunisi militer AS secara global. Hal ini memaksa Pentagon untuk mengirimkan bom, rudal, dan perangkat keras lainnya ke Timur Tengah dari komando di Asia dan Eropa.
Pengurangan tersebut telah membuat komando regional kurang siap untuk menghadapi musuh potensial seperti Rusia dan Cina. Hal ini juga memaksa Amerika Serikat untuk mencari cara meningkatkan produksi guna mengatasi kekurangan tersebut, kata pejabat pemerintahan Trump dan kongres.
Konflik tersebut juga telah menggarisbawahi ketergantungan Pentagon yang berlebihan pada rudal dan amunisi yang sangat mahal, terutama pencegat pertahanan udara. Ada pula kekhawatiran tentang apakah industri pertahanan dapat mengembangkan senjata yang lebih murah, terutama drone serang, jauh lebih cepat.
Baca Juga: Solar Langka di Sejumlah SPBU Sukabumi: Sopir Pajampangan Ngeluh, Terpaksa Beli Dexlite
Departemen Pertahanan AS belum mengungkapkan berapa banyak amunisi yang digunakan dalam 38 hari perang sebelum gencatan senjata berlaku dua minggu lalu.
Pentagon mengatakan telah menghantam lebih dari 13.000 target, tetapi para pejabat mengatakan angka tersebut menyembunyikan jumlah bom dan rudal yang sangat banyak karena pesawat tempur, pesawat serang, dan artileri biasanya menyerang target besar beberapa kali.
Para pejabat Gedung Putih menolak untuk memperkirakan biaya konflik sejauh ini. Namun, dua kelompok independen mengatakan pengeluaran tersebut sangat besar: antara US$28 miliar-US $35 miliar, atau hampir US$1 miliar per hari.
Dalam dua hari pertama saja, para pejabat pertahanan telah mengatakan kepada anggota parlemen, militer menggunakan amunisi senilai US$5,6 miliar.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap target di Iran yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan menewaskan korban sipil dan tokoh-tokoh senior, termasuk pemimpin tertinggi Ali Khamenei.
Baca Juga: Penampilannya Berubah, Ria Ricis Akui Lakukan Operasi Hidung
Sejak itu, Teheran telah mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, diikuti oleh blokade angkatan laut Amerika pada 13 April, yang menghantam pasokan energi global, terutama di seluruh Asia.
Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Perundingan selanjutnya di Islamabad, Pakistan berakhir tanpa membuahkan hasil. Namun, tidak ada pengumuman permusuhan dilanjutkan, meski AS mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Pada Selasa, Trump mengatakan AS akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran sambil terus melakukan blokade. Keesokan harinya, Presiden AS mengatakan bahwa pembicaraan damai dengan Iran "mungkin" terjadi dalam 36 hingga 72 jam ke depan.
Sumber: Tempo.co
Editor : Ikbal Juliansyah