Sukabumi Update

Yulianti PMI Asal Sukabumi Korban Konflik Timur Tengah Tiba di Indonesia

Yulianti, PMI asal Sukabumi saat tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kamis (30/7/2026). (Sumber: dok keluarga)

SUKABUMIUPDATE.com - Yulianti (40), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Gandasoli, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, Kamis (30/7/2026). Setelah berbulan-bulan terjebak di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), Yulianti akhirnya tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan disambut haru oleh keluarganya.

Kepulangan Yulianti telah lama dinantikan keluarga. Sebelumnya, ibu tiga anak tersebut menjadi korban dampak konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah. Ia mengalami cedera setelah terjatuh di rumah majikannya di Dubai akibat panik mendengar suara ledakan rudal saat serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan tersebut pada Mei 2026.

Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, petugas Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) langsung mendampingi dan mengantarkan Yulianti untuk bertemu keluarganya. "Jadwal kepulangannya tadi pakai pesawat QR 9651 sekitar pukul 15.35 WIB," kata Petugas Lounge KP2MI Bandara Soekarno-Hatta, Agus Setiawan.

Baca Juga: Tuan Rumah Sosialisasi KIP Kuliah 2026 LLDIKTI IV Jabar Banten, Universitas Nusa Putra Perkuat Integritas Pengelolaan Beasiswa

Agus menjelaskan, proses pemulangan Yulianti mulai berjalan sejak pertengahan Juli 2026 setelah suaminya, Firman, melaporkan kasus tersebut kepada Direktorat Pelindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri.

"Jadi pada bulan Juli 2026 itu, Bapak Firman (Suami Yulianti) membuat pengaduan ke pihak Direktorat PWNI," lanjutnya.

Laporan tersebut kemudian diteruskan kepada KJRI Dubai. Meski demikian, proses pemulangan tidak berjalan mudah karena sempat terkendala proses mediasi dengan pihak agensi dan majikan.

Baca Juga: 28 Kosakata Bahasa Sunda yang Unik dan Sulit Dicari Padanannya dalam Bahasa Indonesia

Menurut Agus, dalam proses mediasi tersebut pihak agensi mensyaratkan agar posisi Yulianti sebagai asisten rumah tangga (ART) harus terlebih dahulu digantikan oleh pekerja lain sebelum ia diizinkan pulang. Selama bekerja di Dubai, Yulianti juga tercatat telah berpindah majikan sebanyak empat kali.

"Dari pihak agensi, terus kemudian majikan, dan KJRI Dubai mediasi, dan terjadi yang mungkin agak lama. Karena harus menukar kepala yang artinya harus diganti lagi dengan pembantu yang baru," paparnya.

Agus menambahkan, keberangkatan Yulianti ke Timur Tengah pada September 2025 diduga tidak melalui mekanisme penempatan yang sesuai prosedur. Pasalnya, hingga kini pemerintah masih memberlakukan moratorium penempatan pekerja migran Indonesia ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Lecture Series PKB Jabar & NLA: Keteladanan KH Idham Chalid, Inspirasi Kepemimpinan Bangsa

"Sedangkan kalau misalkan dari kita nih, peraturan untuk negara Timur Tengah itu dimoratorium dari 2015 sampai dengan saat ini," jelas Agus.

Sementara itu, Pembina Rumah Sahabat Ibu dan Anak (Rusaida), Yuyu Marliah, yang turut mendampingi Yulianti sebagai korban dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO), mengaku bersyukur atas kepulangan Yulianti yang bertepatan dengan peringatan Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia.

Yuyu mengapresiasi langkah cepat Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dalam memfasilitasi proses pemulangan Yulianti. "Kami apresiasi dan ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada pihak Kementerian P2MI, terutama dalam hal ini bantuan dari Bapak Direktur Layanan Pengaduan Perseorangan individual, yaitu Bapak Firman Yulianto. Juga kepada Kementerian Luar Negeri dalam hal ini secara khusus kepada Duta Besar Judha Nugraha, dan kepada BP3MI dan Pusat Layanan Pekerja Migran di Sukabumi, juga kepada Polres Sukabumi yang telah menerima laporan pengaduan kasus Yulianti," ujar Yuyu.

Baca Juga: Sidak, Cara Ayep Zaki Bangun Budaya Kerja Profesional di Lingkungan Pemkot Sukabumi

Menurutnya, kepulangan Yulianti bukan menjadi akhir dari persoalan. Pemerintah juga perlu memberikan pendampingan lanjutan, terutama pemulihan psikososial untuk mengatasi trauma yang dialami korban akibat konflik bersenjata di Timur Tengah.

"Kami mengharapkan setelah Yulianti pulang masih ada pekerjaan rumah yang harus kita kerjakan yaitu reintegrasi dengan cara pemulihan psikososial karena Yulianti itu mengalami trauma dari dampak perang geopolitik di Timur Tengah antara Iran dan Amerika, di mana serangan-serangan kedua negara itu mereka menjatuhkan bom-bom yang telah membuat Yulianti kecelakaan, cedera, dan hancur secara mental," paparnya.

Selain pemulihan psikososial, Yuyu menilai pemberdayaan sosial dan ekonomi juga menjadi hal penting agar Yulianti dapat kembali mandiri setelah pulang ke Indonesia. "Selain itu, pekerjaan rumah yang paling nyata adalah membantu reintegrasi supaya Yulianti dan keluarganya bangkit berdaya di tanah air dengan cara mendampingi supaya mereka bisa melakukan pemberdayaan sesuai potensi lokal mereka. Kalau di bidang pertanian, ya mari kita berusaha mencari potensi usaha pertanian yang memang menghasilkan," ucapnya.

Editor : Fitriansyah

Tags :
BERITA TERKAIT