SUKABUMIUPDATE.com - Dalam beberapa hari terakhir, gempa bumi di sekitar Gunung Salak Jawa Barat, makin sering terjadi dan dirasakan warga Kabupaten Sukabumi dan Bogor yang tinggal di dekat kawasan TNGHS atau Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Hari ini, Minggu (8/8/2026) hingga pukul 09.00 WIB, sudah terjadi 3 kali gempa darat dengan kedalaman hingga 13 kilometer. Gempa-gempa ini hanya dirasakan oleh warga yang tinggal di sekitar titik gempa, seperti Kecamatan Pamijahan dan Leuwiliang Kabupaten Bogor dan Kecamatan Kabandungan Kabupaten Sukabumi.
Data BMKG, gempa mag:2.2, 8 Agustus 2026 pukul 08:42:11 WIB, titik: 6.72 LS - 106.61 BT, Kedalaman 13 km; gempa Mag:3.2, 8 Agustus 2026 pukul 06:45:53 WIB, titik 6.73 LS - 106.61 BT, Kedalaman 10 km; Gempa Mag:2.1, 8 Agustus 2026 pukul 05:32:30 WIB, titik 6.74 LS - 106.62 BT, Kedalaman 9 km.
Baca Juga: Erick Thohir Sambut Positif Klub Dunia Gelar Pramusim di Indonesia, Ada Chelsea hingga AC Milan
Dalam rilis resminya, Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif wilayah setempat.
Sehari sebelumnya, Jumat 7 Agustus 2026 gempa darat di kawasan tersebut juga membuat warga yang tinggal di sekitar kaki gunung salak terkejut dengan guncangannya. BMKG mencatat gempa mag:1.8, pukul 07:14:19 WIB, Lok: 6.90 LS - 106.70 BT, kedalaman 30 km; dan pukul 03:42:56 WIB gempa magnitudo M 3,4 dengan episenter koordinat 6.72 LS dan 106.69 BT dengan kedalaman 4 km.
Patahan Aktif di Area Eksplorasi Panas Bumi
Warga di sekitar titik gempa gunung salak hingga saat ini sering mengaitkan aktivitas kerak bumi ini dengan kegiatan eksplorasi energi panas bumi yang ada disana. Pada September 2025, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan gempa beruntun yang mengguncang kawasan Gunung Salak disebabkan aktivitas Sesar Cianten, bagian dari sistem Sesar Bayah–Salak, dengan karakter tektonik, bukan vulkanik.
Baca Juga: 15 Prompt AI Poster Hari Pramuka 2026, Banyak Konsep Keren dan Menarik
Ahli Seismologi BMKG, Pepen Supendi, menjelaskan, hasil analisis gelombang seismik dan pemetaan Badan Geologi menunjukkan bahwa gempa di wilayah tersebut berasal dari pergeseran lapisan tanah akibat aktivitas sesar aktif. “Dari karakter gelombangnya terlihat jelas bahwa ini gempa tektonik akibat sesar aktif, bukan karena aktivitas magma,” kata Pepen Supendi saat sosialisasi mitigasi bencana dan kegempaan di Pamijahan, Bogor.
Ia menyebut, segmen Sesar Cianten melintasi wilayah Kecamatan Pamijahan hingga Gunung Salak bagian barat dan timur, sehingga wajar bila daerah ini sering mengalami gempa kecil. Menurut Pepen, dengan meningkatnya jumlah stasiun seismik menjadi lebih dari 550 unit di seluruh Indonesia, BMKG kini mampu merekam getaran kecil secara lebih akurat dibandingkan masa lalu.
Ia menambahkan, tidak semua gempa kecil menandakan potensi bahaya besar. Dampaknya sangat bergantung pada kondisi tanah dan kekuatan bangunan di permukaan. BMKG menegaskan gempa tektonik di sekitar Gunung Salak tidak terkait dengan aktivitas vulkanik maupun operasional panas bumi. Semua data menunjukkan sumber energi berasal dari pergeseran sesar aktif.
Baca Juga: Mengenal Kesenian Beluk Sunda, Seni Vokal dengan Suara Melengking yang Mulai Langka
Pepen Supendi mengingatkan, masyarakat perlu membiasakan diri mengikuti panduan keselamatan seperti tidak panik, mencari tempat terbuka, serta memperhatikan struktur bangunan di sekitarnya.
Editor : Fitriansyah