SUKABUMIUPDATE.com – Suara dentuman disertai getaran dilaporkan dirasakan sejumlah warga di berbagai wilayah, khususnya Jawa Barat dan Banten. Fenomena tersebut terjadi sejak Jumat (4/9/2026) hingga Sabtu (5/9/2026) pagi.
Sejumlah warga bahkan membagikan pengalaman mereka melalui media sosialnya. Salah satunya warganet di Threads dengan username bangbaid, yang mengunggah video kondisi rumahnya saat mengalami getaran.
Dalam video tersebut, pintu hingga jendela rumah tampak mengalami getaran. Ia menyebut peristiwa itu terjadi pada Sabtu (5/9/2026) pagi sekitar pukul 06.42 WIB.
“Ini video hari ini 5 September 2026 tepatnya di jam 06.42 WIB. Lokasi di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang - Banten,” tulisnya.
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi, Muntahkan Lava Air Mancur dan Gelegar Dentuman
Selain itu dalam postingan video warganet lainnya, suara dentuman keras dari atas langit juga dialami oleh warga yang berada di Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat pada hari Jumat 04 September 2026 sekitar pukul 00:00 WIB.
Lalu fenomena apakah itu?
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan.
“Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi G. Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan,” ujar Lana tulis dalam keterangan.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda. Secara administratif, gunung api tersebut termasuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau dilakukan melalui dua Pos Pengamatan Gunung Api (PGA), yakni Pos PGA Anak Krakatau di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, serta Pos PGA Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Riwayat Erupsi dan Tsunami
Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah aktivitas vulkanik yang berkaitan dengan tsunami di kawasan Selat Sunda.
Pada 1883, terjadi erupsi besar yang menghasilkan tsunami. Kemudian, pada 22 Desember 2018, aktivitas gempa bumi memicu erupsi dan longsoran sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau yang kemudian menimbulkan tsunami di kawasan Selat Sunda.
Berdasarkan hasil evaluasi Badan Geologi, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Kondisi tersebut dinilai belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Baca Juga: Cuaca Jabar 5 September 2026, Akhir Pekan Sukabumi Potensi Cerah Berawan
Meski demikian, perkembangan aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau tetap dipantau secara intensif.
“Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya yang perlu diwaspadai berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar,” ujarnya.
Setelah peristiwa 22 Desember 2018, erupsi berskala rendah masih terus berlangsung sebagai bagian dari fase konstruksi atau pertumbuhan kembali tubuh Gunung Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023.
Setelah mengalami jeda cukup lama, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada 2 Juli 2026. Sejak saat itu, status aktivitas gunung api tersebut dinaikkan dan masih bertahan pada Level III (Siaga).
Seri erupsi bertipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga 5 September 2026.
Pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunung Anak Krakatau dilaporkan mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh.
Baca Juga: Dampingi TBM Tenjoayu, Diarpus Sukabumi Dorong Perpustakaan Jadi Ruang Kreativitas Anak
“Sampai saat ini Sabtu 5 September 2026, pukul 04.40 WIB masih berlangsung erupsi menerus dan masih terdengar gemuruh dari Pos PGA Krakatau Pasauran dari erupsi menerus GAK,” ucapnya.
Tinggi kolom erupsi tidak teramati. Namun, semburan berwarna merah menyala terlihat jelas secara terus-menerus.
Fenomena tersebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava yang menghasilkan aliran lava. Menurut Badan Geologi, erupsi menerus selama beberapa jam yang berasosiasi dengan fenomena air mancur lava merupakan kejadian umum yang dapat terjadi pada aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Editor : Ikbal Juliansyah