Sukabumi Update

Maulid Nabi Muhammad SAW and Peace Education

SUKABUMIUPDATE.com - MUHAMMAD itu orang gila! Demikian umpatan seorang wanita pengemis beragama Yahudi di pinggir jalan Madinah. Wanita tua buta itu memang sering mengumpat Nabi Muhammad di depan mata Rasul sendiri.

Para sahabat Nabi yang menyaksikan umpatan itu geram. Namun, Nabi tidak marah. Beliau bahkan selalu mengantarkan makanan kepada pengemis Yahudi itu tiap hari. Karena pengemis itu buta, Muhammad pun menyuapi makanan itu ke mulut sang pengumpat dengan penuh kasih.

Ketika Nabi Muhammad wafat, Abu Bakar menggantikan peran Nabi, menyuapi makanan ke mulut pengemis buta itu.

“Siapa Anda? Kok cara menyuapi makanannya berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Biasanya halus dan lembut, sekarang tidak,” kata pengemis Yahudi buta itu.

Rupanya sang pengemis dengan perasaannya tidak lagi merasakan adanya kelembutan ketika menerima suapan makanan dari tangan Abu Bakar.

“Ke mana orang yang biasa memberi makanan dan menyuapi aku?” kata wanita buta itu.

“Beliau telah wafat,” kata Abu Bakar.

Pengemis Yahudi itu kaget.

“Orang itu sangat halus. Hatinya sangat mulia,” puji pengemis.

“Siapa dia?”

“Dia Muhammad Rasulullah,” kata Abu Bakar.

Pengemis itu kaget bukan main. Dia merasa amat berdosa. Selama ini dia selalu mencaci maki Muhammad, sementara Muhammad selalu memberikan kasih sayangnya dengan tulus. Dengan berlinang air mata, si pengemis itu minta maaf dan langsung berikrar mengikuti agama Muhammad.

Nonviolence education

Kisah tersebut, barangkali, contoh pendidikan antikekerasan (nonviolence education) paling menyentuh yang diajarkan Nabi Muhammad kepada umatnya. Selain kisah Nabi dengan si pengemis Yahudi buta itu, sedikitnya ada dua kisah lain yang menggambarkan Nabi Muhammad adalah pionir nonviolence education, 14 abad sebelum Mahatma Gandhi memperkenalkannya kepada dunia. Menurut pengakuan Muhatma Gandhi, ia memang belajar hidup nonviolence (damai) kepada Muhammad.

Pertama, ketika Nabi ber-dakwah di Thaif. Saat itu penduduk Thaif mengusir Nabi dan melempari beliau dengan batu dan kotoran unta. Setelah melihat perlakuan penduduk seperti itu, Nabi berdoa agar Allah memberikan pengetahuan kepada penduduk Thaif sehingga anak cucu mereka kelak masuk Islam.

Kedua, kisah ketika Rasul dan pasukannya menaklukkan Mekah (Fathu Makkah) yang menjadi basis orang-orang Quraisy ang selama ini memusuhi Islam. Nabi sebagai pemimpin perang yang memenangi peperangan menyuruh pasukannya agar tidak membunuh tentara musuh yang menyerah; tidak membunuh orang tua, perempuan, dan anak-anak; tidak merusak properti orang Quraisy; dan tidak merusak lingkungan (memotong pohon dan membunuh binatang yang ada di Mekah).

Apa yang dicontohkan Rasulullah itu menunjukkan penahapan bagaimana proses pendidikan antikekerasan yang seharusnya dilakukan umat Islam. Tahap pertama, ketika Rasulullah secara individual belum mempunyai kekuatan untuk menghadapi kekerasan yang dilakukan penduduk (Thaif), beliau justru mendoakan agar masyarakat Thaif mendapat pemahaman bahwa apa yang dilakukan mereka salah.

Dalam formulasi code of non-violence UNESCO, apa yang dilakukan Rasul adalah sebuah tindakan non-violence education to prevent continuous cycles of conflict. Dengan cara itu, Rasul memutus siklus kekerasan yang sangat mungkin terjadi bila beliau menyetujui tawaran Jibril untuk menghancurkan penduduk Thaif.

Dalam kultur nomaden Arab, kekerasan adalah sebuah tindakan preventif untuk menyelamatkan diri dari gangguan orang lain. Sikap keras budaya Arab itu, misalnya, terlihat dari perlakuan laki-laki terhadap perempuan dan ayah terhadap anak-anaknya. Dalam tradisi Arab, laki-laki dan ayah adalah raja di keluarga.

Dalam novel Burned Alive, yang mengisahkan kehidupan nyata Souad, seorang gadis dari Tepi Barat Palestina yang dibakar hidup-hidup karena perbuatan zina yang dilakukannya, tergambar jelas bagaimana kehidupan bangsa Arab yang keras dan penuh dendam. Kekerasan hidup tersebut terus dipelihara masyarakat Arab melalui apa yang disebut mereka ‘menjaga kehormatan’ dengan jalan melanggengkan dendam. Souad melihat sendiri bagaimana ayahnya menimpuk Assad – kakaknya -- dengan batu karena kewibawaannya mulai digerogoti sang anak lelaki itu.

Pembunuhan Raja Arab Saudi Faisal bin Abdul Aziz oleh keponakannya (Faisal Ibnu Musaed), 1975, sebetulnya merupakan balas dendam karena Raja Faisal pernah membunuh paman Ibnu Musaed. Itulah lingkaran dendam yang amat berbahaya bagi kehidupan.

Dalam kasus Thaif, Muhammad justru bertindak sebaliknya. Beliau berusaha sekuat tenaga untuk memutuskan dendam semacam itu. Ketika beliau disakiti dan dihina orang-orangThaif, Rasul tak hanya memaafkan mereka, tapi juga berdoa untuk kebaikan mereka kelak. Sikap Rasul itu adalah sebuah revolusi etik dalam masyarakat Arab. Revolusi etik itu ternyata berhasil. Beberapa tahun kemudian orang-orang Thaif masuk Islam dan menjadi sahabat beliau yang setia.

Tahap berikutnya adalah sikap Rasul ketika memasuki Mekah sebagai pemenang perang (Fathu Makkah) yang tidak membawa dendam. Beliau justru malah mengampuni dan melindungi mereka yang lemah. Perlindungan beliau tak hanya kepada orang yang lemah, tapi juga kepada properti kaum yang kalah dan lingkungan hidup mereka.  Dua perintah Rasul itu -- melindungi properti dan mencegah kerusakan lingkungan -- merupakan penerapan kode etik peperangan yang sangat revolusioner pada zamannya, bahkan sampai sekarang.

Kode etik perang Rasulullah itu 13 abad kemudian diadopsi menjadi kode etik perang oleh PBB (UN Code War). Tak mudah untuk mengaplikasikan UN Code War. Dalam Perang Vietnam, misalnya, UN Code War, dilanggar terang-terangan oleh pasukan AS dengan menjatuhkan bom Napalm yang membakar hutan dan merusak lingkungan secara masif.  Bahkan sebagian umat Islam pun kini melanggarnya secara membabi buta dengan membunuh dan menghancurkan properti milik orang-orang Ahmadiyah yang kalah dan minoritas di mana-mana.

Tahap ketiga adalah mengejawantahkan Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin. Sikap Rasul yang menyuapi pengemis Yahudi buta itu dengan makanan merupakan ajaran anti-kekerasan yang prima.

Sebagai pemimpin negara, Rasul memberikan pelajaran bahwa kemakmuran penduduk Madinah tidak akan sempurna bila warganya yang mengemis dan buta tidak mendapatkan pelayanan yang seharusnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kemakmuran dan kesejahteraan sebuah negara, tulis EF Schumacher, tidak diukur dari jumlah orang kayanya. Tapi diukur dari   jumlah orang miskinnya.

Muhammad telah memberikan pelajaran kepada umat Islam untuk peduli kepada orang miskin, lemah, dan tak berdaya. Tanpa melihat suku dan agamanya. Apa yang dilakukan Rasul merupakan sikap seorang humanis sejati yang menghargai manusia karena kemanusiaannya.

Nabi pernah menyuruh sahabat-sahabatnya untuk berdiri menghormati mayat yang lewat meski mayat tersebut orang Yahudi. Ketika ditanya kenapa Rasul bersikap seperti itu, jawabnya karena ia seorang manusia.

Tiga contoh akhlak Rasul tersebut, kalau kita cermati, merupakan bentuk pendidikan antikekerasan yang universal.  Benar apa kata Maria Montessori. Avoiding war is a work of politics, establishing peace is a work of education. Mencegah perang adalah kerja politik. Membangun perdamaian adalah kerja pendidikan.

Muhammad telah merintis pendikan perdamaian dan antikekerasan jauh sebelum PBB memperkenalkannya. Kebesaran Islam di masa Muhammad, tulis Huston Smith dalam bukunya, The Religion of Man, adalah karena ajarannya yang mengedepankan toleransi dan perdamaian.

Editor : Administrator

Tags :
BERITA TERPOPULER
BERITA TERKINI