SUKABUMIUPDATE.com – Di tengah memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang mengguncang pasar energi dunia, dampaknya mulai terasa hingga ke daerah.
Diketahui, penutupan dan pembatasan akses di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak global memicu lonjakan harga minyak dunia dan kekhawatiran kenaikan BBM di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Khusus di Sukabumi, bayang-bayang krisis energi itu kini tercermin dari antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU yang terus menuai keluhan, terutama dari kalangan pengemudi ojek online (ojol) yang merasakan langsung dampaknya terhadap pendapatan harian.
Baca Juga: Dasco Sebut Tidak Ada Rencana Pembatasan BBM Bersubsidi per 1 April 2026: Stok Aman
Pantauan sukabumiupdate.com di lapangan, antrean kendaraan tampak mengular cukup panjang di SPBU Baros, SPBU Ciseureuh dan SPBU Sudirman Kota Sukabumi. Sejumlah pengendara terlihat menunggu giliran pengisian BBM, dengan antrean yang didominasi kendaraan berbahan bakar solar.
Salah seorang pengemudi ojol, Ramlan (42), mengaku kondisi ini semakin memberatkan di tengah tekanan ekonomi yang belum stabil. Ia mengatakan, selain tarif yang menurun, biaya operasional justru kian membengkak akibat kebutuhan bahan bakar.
“Jelas rugi lah, udah tarif dipangkas, bener bener sekarang BBM naik ya tambah sulit lah,” ujarnya saat ditemui sukabumiupdate.com ketika hendak mengisi BBM, Selasa (31/3/2026).
Dalam sehari, Ramlan menyebut dirinya harus dua kali mengisi bahan bakar jenis Pertalite dengan nominal masing-masing Rp25 ribu. “Pokoknya sehari itu dua kali isi,” katanya.
Baca Juga: Lansia Warga Jaksel Tewas di Kontrakan, Polres Sukabumi Kota Temukan Obat dan Vitamin
Ia juga mengaku selama ini masih bergantung pada Pertalite untuk menunjang pekerjaannya. Menurutnya, jika benar terjadi kenaikan atau pembatasan BBM, para pengemudi ojol akan mempertimbangkan langkah bersama.
“Ya kita ibaratnya demo dulu lah sama temen temen, dipertimbangin dulu, soalnya kan kita rakyat kecil udah susah sekarang dipersusah lagi kaya gini,” ucapnya.
Ramlan yang telah menjadi pengemudi ojol sejak 2019 itu juga menggambarkan kondisi ekonomi yang menurutnya belum sepenuhnya pulih. Ia berharap tahun 2026 membawa perbaikan, namun realita di lapangan justru masih berat.
“Ekonomi juga kan belum stabil masih semrawut di tahun kemarin lagi diuji, 2026 mudah mudahan stabil ternyata kan masih kaya gini tambah sulit lagi,” katanya.
Sebagai kepala keluarga dengan empat anak, ia berharap kebijakan yang diambil pemerintah dapat lebih mempertimbangkan kondisi masyarakat kecil.
Baca Juga: Pertalite Masih Ceban, Pemerintah Sebut Belum Ada Kenaikan Harga BBM Subsidi per 1 April 2026
“Ya harapannya dilihat yang di bawah bawah dulu sebelum ambil keputusan, kalau yang di atas kan udah enak, ongkang ongkang,” tuturnya.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat, Susanto August Satria, memastikan bahwa pasokan BBM di wilayah Sukabumi dalam kondisi aman dan mencukupi. Ia menegaskan masyarakat tidak perlu melakukan pembelian berlebihan.
“Masyarakat tidak perlu melakukan panic buying karena stok BBM dalam keadaan yang terjaga untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat,” ujarnya.
Pertamina, lanjutnya, terus melakukan pemantauan distribusi secara intensif serta berkoordinasi dengan pengelola SPBU agar pelayanan tetap optimal dan antrean bisa lebih tertib. Selain itu, masyarakat juga diminta menjaga ketertiban selama berada di area SPBU.
Terkait isu yang beredar mengenai proyeksi harga BBM, ia menegaskan informasi tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan dan hingga saat ini belum ada pengumuman resmi.
“Informasi valid terkait harga BBM dapat diakses melalui website resmi Pertamina, pertamina mendukung himbauan pemerintah untuk bijak menggunakan energi,” katanya.
Pertamina juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak serta melaporkan jika ditemukan kendala layanan atau indikasi pelanggaran melalui Pertamina Call Center 135.
Editor : Asep Awaludin